Serunya Kampanye Go Pangan Lokal 2016 MITI KM Wilayah Jabaja di Lebak, Banten
November 7, 2016
Galeri Temu Wilayah Lembaga Akademisi Mahasiswa se-Sulawesi 2016
November 14, 2016

Dr. Edi Sukur, M.Eng Mengingatkan Mahasiswa UIN Jakarta Akan Tugas Dasarnya bagi Indonesia

Dr. Edi Sukur, M.Eng. mengisi di UIN Jakarta

Dr. Edi Sukur, M.Eng. mengisi di UIN Jakarta

Jakarta (miti.or.id) – Sekretaris Umum MITI, Dr. Edi Sukur, M.Eng., menjadi pembicara di acara Seminar Nasional bertema “Refleksi Pemuda Visioner Menuju Masa Depan Indonesia yang Berkarakter”, hari Sabtu, 5 November 2016 yang lalu. Seminar ini diselenggarakan oleh Fatahillah Researchers for Science and Humanity (FRESH) dan LDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebanyak 400 peserta seminar memenuhi ruang Auditorium Harum Nasution dari mahasiswa dan pelajar SMA se-Jabodetabek dan Provinsi Banten.

 

Pembukaan acara oleh Bapak Prof. Dr. Yusron Razak, M.A. sebelum seminar nasional dimulai

Pembukaan acara oleh Bapak Prof. Dr. Yusron Razak, M.A. sebelum seminar nasional dimulai

 

 

Kegiatan dibuka oleh sambutan dari Bapak Prof. Dr. Yusron Razak, M.A., yang merupakan Pembina LDK sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau menyampaikan bahwa dakwah adalah urusan semua orang, bukan hanya urusan pribadi. “Saya berharap, apa yang telah kita kembangkan, kita lakukan, mudah-mudahan ini betul-betul membuat kita semakin dekat dengan Allah..” ucap beliau dalam sambutannya.

 

 

Dr. Edi Sukur, M.Eng. menyampaikan materinya di depan peserta seminar Syahid Fair 2016

Dr. Edi Sukur, M.Eng. menyampaikan materinya di depan peserta seminar Syahid Fair 2016

 

Seminar dimulai dengan materi yang disampaikan oleh Dr. Edi Sukur, M.Eng. mengenai bagaimana perbedaan status dan kondisi masyarakat dunia di tahun 1820-an yang ditampilkan oleh sebuah patung di salah satu pinggiran Sungai Singapura. Patung tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Eropa sudah lebih mapan dan memiliki level yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat dari etnis Cina, meskipun masyarakat Melayu menempati posisi yang paling rendah dengan tidak adanya alas kaki dan sederhananya pakaian yang digunakan. Hal ini cukup mewakili kondisi masyarakat Melayu, dalam hal ini masyarakat Indonesia, di mata dunia dibandingkan dengan etnis lainnya.

 

 

Suasana Auditorium Harum Nasution yang dipenuhi ratusan peserta seminar nasional, Sabtu (5/11)

Suasana Auditorium Harum Nasution yang dipenuhi ratusan peserta seminar nasional, Sabtu (5/11)

 

Kondisi di dunia saat ini mengantarkan pada kondisi umat muslim di Indonesia di mana banyak dari mereka yang hanya fokus melakukan 3 hal dari 4 tuntunan Tuhan di Alquran surat Al Hajj ayat 77 yang isinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Rukulah, sujudlah kamu, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”. Banyak umat muslim yang fokus melakukan ibadah, namun mengesampingkan perintah terakhir di ayat tersebut yaitu berbuat kebaikan kepada seluruh makhluk di muka bumi. Pelaksanaan 3 poin saja dari 4 pilar tersebut, membuat seorang muslim menjadi egois. Untuk menjadi pemuda muslim yang visioner, agar mampu menghadapi masa depan Indonesia yang berkarakter, maka perbuatan baik lebih banyak perlu dilakukan.

 

 

Pemberian kenang-kenangan dari ketua panitia kepada Dr. Edi Sukur, M.Eng., seusai acara selesai

Pemberian kenang-kenangan dari ketua panitia kepada Dr. Edi Sukur, M.Eng., seusai acara selesai

 

Seminar nasional ditutup dengan sesi tanya jawab, yang mengundang banyak pertanyaan dari para peserta. Salah satunya adalah dari mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, yang menanyakan pernyataan Dr. Edi Sukur mengenai mengapa pemuda tidak boleh cepat kaya? Dr. Edi Sukur pun menjelaskan bahwa kekayaan itu harus didapatkan dengan proses, sama dengan berbagai hal di dunia ini. Seperti teori gravitasi yang didapatkan dari pemikiran Isaac Newton selama bertahun-tahun yang akhirnya tercerahkan dengan stimulus jatuhnya apel dari pohonnya. Pemuda masa depan Indonesia, tidak seharusnya berorientasi mengejar kekayaan secara instan. Pemuda masa depan adalah mereka yang menghargai proses dan gigih dalam menjalaninya, karena sesungguhnya kekayaan itu bukan dilihat dari banyaknya harta atau uang yang dibagikan, namun bagaimana kita bersyukur dengan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. (UH)