
TBI-BTIC MITI Bergabung dalam Zona Bisnis Teknologi yang Diresmikan di Puspiptek
March 9, 2016
MITI Promosikan Galeri Inovasi Teknologi di Hadapan Puluhan Organisasi Tingkat ASEAN
March 16, 2016Hidup itu sederhana saja, jangan dibuat rumit. Dengan dimulai dari sesuatu yang sederhana, penelitian bisa dikembangkan lagi sesuai dengan keinginan kita.. ~ Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng.
Tangerang Selatan (miti.or.id) — Dalam rangka menjaga silaturahim dengan ilmuwan di dalam jaringannya, MITI melaksanakan kegiatan Silaturahim Ilmiah MITI (SILMI) edisi kedua (Kamis, 10/03), ke laboratorium Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng. di Pusat Teknologi Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Puspiptek. Beliau merupakan salah satu pengurus MITI, dan saat ini menjabat sebagai Kepala Divisi Pembinaan Pelajar dan Mahasiswa.
MITI yang diwakili oleh sebagian officer-nya, mendapatkan wawasan baru mengenai riset yang dilakukan Dr. Ratno di PTM, salah satunya mengenai pengembangan sensor berbasis MEMs (Microelectromechanical Systems). Sensor yang dikembangkan Dr. Ratno Nuryadi, adalah sensor untuk mendeteksi material biokimia, seperti gas. Dalam melakukan risetnya sepulang dari masa studi panjangnya di Jepang, beliau tidak pernah membiarkan keterbatasan alat ataupun dana penelitian di Indonesia, menghambat kegiatan risetnya dan tim. Kebiasaan hidup di Jepang dan prinsip kesederhanaan hidupnya membuat beliau merakit sebagian besar alat yang digunakan dalam risetnya, bahkan Dr. Ratno mendorong dan mendampingi tim penelitiannya dalam merangkai berbagai alat di laboratoriumnya.
Dr. Ratno menerapkan prinsip kesederhanaan, tidak hanya dalam kegiatan riset dan koordinasinya dengan berbagai timnya di laboratorium, namun juga dalam menjalankan hidupnya. Hal ini dipengaruhi oleh lamanya masa hidup beliau di Jepang, di mana masyarakat Jepang memiliki motto sederhana yaitu “meiwaku shinai youna” yang berarti jangan mengganggu orang lain. Dengan motto ini, Jepang menjadi negara yang bersih dan tertib. Menurutnya, ini belum ada di Indonesia hingga saat ini. Kesederhanaan pola pikir untuk tidak mengganggu orang lain, diharapkan bisa diterapkan, agar Indonesia bisa menjadi lebih baik dari Jepang, tidak hanya di bidang penelitiannya, tapi juga dalam sistem kehidupan secara umum. (UH)