Roadshow MITI KM to South Sumatra
11/03/2017
Rapat Koordinasi Wilayah Jakarta-Banten-Jawa Barat (JABAJA) MITI Klaster Mahasiswa (MITI KM)
18/03/2017

IDM (Internal Discussion for MITI KM) #2

Tanggal: 17 Maret 2017

Pemateri: Fathan Asadudin Sembiring (Awardee Chinese Government Scholarship di Bidang Ilmu Bisnis Internasional di Univ. of Int’ll Business and Economic , Beijing)

Soal melanjutkan studi di luar negeri itu kita harus bisa memberikan opsi seluas -luasnya kepada diri kita sendiri terhadap masa depan, terutama terhadap destinasi kita menempuh studi lanjutan. Berbicara mengenai lingkungan kampus maupun institusi pendidikan lainnya, adalah masyarakat Tiongkok sangatlah kompetitif dan tidak main-main mengenai pendidikan. Ketika berada di lingkungan kampus dan memiliki rekan orang Tiongkok, maka kita bisa mengetahui bahwa kompetisi itu nyata. Mungkin kalau di Tanah Air kita sering mengolok-olok teman-teman satu kampus atau sekolah yang kutu buku, kuper (kurang pergaulan), dan “kupu-kupu” alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Namun ketiga sebutan itulah yang sesungguhnya rata terjadi di Tiongkok dan mungkin juga merupakan salah satu kunci kesuksesan mereka dalam konteks pendidikan. Kenyataan bahwa orang-orang dengan status murid atau mahasiswa merupakan bentuk ideal dari apa yang memang seharusnya terjadi: fokus belajar. Sedari usia memasuki sekolah dasar, pembebanan tugas-tugas dan tanggung jawab yang berkenaan dengan sekolah maupun belajar sangatlah banyak. Metode pembelajaran juga hampir sama dengan yang terjadi di Tanah Air. Ada guru, murid, dan kegiatan belajar-mengajar, waktu belajar yang panjang, Pekerjaan Rumah yang menumpuk, juga ujian-ujian akhir yang cukup membuat para siswa/i menerima tekanan yang berat. Bahkan di beberapa kasus misalnya, para siswa yang akan menempuh Ujian Nasional (disebut Gao-Kao) mereka mempersiapkan diri sampai-sampai perlu diberikan suntikan cairan infus di sekolah maupun di tempat-tempat kursus dimana mereka mempersiapkan materi-materi yang akan diujikan.

Sedikit membahas mengenai budaya pendidikan di Tiongkok, hampir bisa dipastikan kalau metode yang digunakan terpaut kepada komunikasi satu arah. Jarang sekali bila kita berinteraksi di ruang-ruang kelas mendapati para murid/mahasiswa yang bersikap kritis terhadap apa yang disampaikan oleh dosen/juru ajar di kelas. Sehingga bisa didapati pula bahwa ketika kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung, tidak terlalu banyak diskusi yang dilakukan. Diskusi-diskusi yang kita rasa perlu untuk dilakukan berasama degan dosen atau instruktur kelas dapat dilakukan setelah sesi perkuliahan selesai.

Di Tiongkok hampir semua kampus memiliki sarana dan prasarana yang bisa dikatakan komplit untuk ukuran mahasiswa. Di dalam kampus bisa didapati asrama-asrama yang disediakan dan disubsidi oleh kampus untuk para mahasiswa/i. Biasanya satu kamar di asrama dapat menampung 6-8 orang sekaligus untuk mahasiswa lokal. Selain asrama, tentu saja sarana-sarana seperti lapangan olah raga, kantin, perpustakaan, klinik, dan lain-lain tersedia dan dapat digunakan oleh siapapun. Bahkan di beberapa kampus besar mereka memiliki gedung bioskop atau aula pementasan mereka sendiri. Di Beijing pun hampir semua kampus memiliki kantin halal di dalam kampus. Kesemua ini serta-merta disediakan guna memberikan kemudahan dan keamanan bagi setiap individu yang terkait dengan sekolah/kampus/universitas.

Bukanlah hal yang mengherankan ketika melihat ruang-ruang kelas di kampus-kampus tetap terbuka hingga larut malam dan pada akhir pekan. Para mahasiswa/i yang memiliki beban tugas pembelajaran yang sangat menumpuk memiliki rutinitas belajar mandiri di waktu-waktu akhir pekan. Akhir pekan merupakan waktu yang cocok untuk mereka belajar atau melihat ulang materi-materi yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini dikarenakan selain kamar asrama yang tidak kondusif untuk belajar (karena banyaknya teman sekamar) atau karena akses internet gratis biasanya dapat ditemukan di ruang-ruang kelas.

Kesadaran akan belajar mandiri sangatlah kuat di setiap diri para peserta didik di Tiongkok. Tempat-tempat seperti perpustakaan, kafe-kafe di sekitar kampus, ketika musim ujian tiba maka akan penuh sesak dengan mereka yang haus akan prestasi dan ingin menjadi yang terbaik di bidang masing-masing.

Terus kira-kira apa hambatan kuliah di Cina?
Hambatan-hambatannya tidak seseram yang kita dibayangkan paling banyak, ketika pertama kali tiba di Beijing itu soal makanan karena kita butuh penyesuaian dengan makanan lokal yang jangan dibayangkan sebagai Chinese food di sini. Selain itu, karena kondisi nya, kalau kita pelajar di sana, dan dapat beasiswa, kita bisa melakukan hal-hal privat kita di asrama yang notabene nya ada di dalam kampus seperti shalat, dsb itu sebenernya tidak ada masalah masjid juga sebenarnya banyak, terutama di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai dan Guangzhou.

Masalah Interaksi
Selama di sana kurang lebih genap 5 tahun memang kondisi nya beda-beda antara lingkungan kampus dan lingkungan non-kampus tapi kalau di kampus tidak ada masalah interaksi sama sekali, karena di Tiongkok banyak mahasiswa/i asing tapi memang kalau mau lancar berinteraksi sama mahasiswa lokal (orang Tiongkok) memang bagusnya bisa menggunakan Bahasa Mandarin.

Rasisme
Rasisme itu sedikit banyak juga dikarenakan karena suatu pihak tidak mengetahui suatu pihak yang lain, sehingga mengambil titik ekstrem dalam menyikapi sesuatu. tapi begini, apa yang terjadi secara politik di dalam negeri orang lain, tidak usah kita campur-adukkan seakan-akan kita mengerti mengenai segala hal, karena bukan itu yang Rasul perintahkan kepada Ummat nya karena memang konsep ‘vigilantism’ dan ‘islamophobia’ itu produk Barat, bukan produk “seluruh dunia” jadi Insya Allah tidak ada orang pake jilbab ditarik jilbab nya suruh lepas kalau ketemu di tengah jalan.

Terkait beasiswa
Beasiswa itu tergantung kita apply dan dapat nya apa. Kalau kita apply full-scholarship itu dapat asrama, uang saku, asuransi, allowance, sama of course tuition fee. Review perform studi setiap semester. Persyaratannya sangat minimal. Seperti TOEFL/IELTS, transkrip akademik, dan surat pernyataan kesehatan. Ga seperti kampus2 Eropa atau Amerika Utara yang minta GMAT, dkk. Mereka tidak menunggu imbalan “hutang budi” atau bentuk apapun untuk balas jasa atas beasiswa ini..Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, kamu bisa membuka website dari CSC (The China Scholarship Council) di en.csc.edu.cn/ .

Popularitas
sebenernya sangat awam bagi yang kurang paham. Karena di Tiongkok sendiri mahasiswa Indonesia ada 12.000-an lebih per tahun 2016, tahun 2013 bahkan sampai menyentuh angka 13.000-an. Penyumbang mahasiswa/i terbesar di Tiongkok itu dari 1) Korea Selatan dan 2) Amerika Serikat; Indonesia sekarang berada di peringkat 9, karena memang fakta nya banyak orang-orang dari Barat itu jauh-jauh ke Tiongkok cuman buat belajar Mandarin, biar mereka siap untuk masa depan. Jangan dibandingkan dengan negara-negara seperti Eropa dan Amerika. Go Apple to Apple membandingkan Harvard dengan Peking University. Tapi kita lihat juga konteks kedepannya seperti apa. tapi gini, beda kondisi yang sangat jauh di Tiongkok dengan di Indonesia adalah distribusi dari para dosen yang ada di kampus-kampus. Mereka bisa merekayasa (melakukan secara sengaja) sehingga distribusi tenaga pengajar itu nyaris merata di semua kampus di seantero negara, itu perbedaan yang sangat signifikan..

Belajar Bahasa Mandarin
Bahasa Mandarin itu butuh alokasi waktu khusus dan cukup untuk kita fokus. dan Bahasa Mandarin itu untuk kedepannya adalah tools berkomunikasi yang akan lebih penting lagi. Apalagi dengan jumlah diaspora mereka di mana-mana, sehingga akan lebih efektif ketika kita berkomunikasi dengan orang-orang Tiongkok maupun Tionghoa menggunakan Bahasa Mandarin dan Mandarin ini kalau kita bisa menguasainya, maka kondisi dalam negeri yang acakadut soal segregasi Tionghoa-Pribumi akan menjadi tidak relevan lagi..

Sekian IDM # kali ini. Semoga bermanfaat.
Disadur oleh Jamaluddin—Staf HLN MITI KM 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now