Buletin Akselerasi MITI Klaster Mahasiswa Edisi 2, Agustus Tahun 2015
31/08/2015
Pengurus MITI KM Sajikan Materi Membangun Budaya Riset dan Publikasi KTI Mahasiswa
16/09/2015

“Travel, it leaves you speechless then turns you into a storyteller”

Saya kali ini akan jadi storyteller untuk pengalaman paling berharga saya ketika pertama kalinya terbang meninggalkan “sangkar”. Orang bilang semua hal yang diawali dengan kata first itu bikin susah move on; first crush, first flight, first.. apa aja deh, pasti bakal selalu jadi pengalaman dan cerita yang berharga. Jadi, artikel ini adalah cerita susah move on-nya seorang storyteller dari pengalaman pertamanya ke luar negeri. Waktu dan tempat akan disamarkan, karena bisa bikin si storyteller terkesan kebangetan susah move on-nya.

agustus 1

Gambar via: http://lloyd620.rssing.com/chan-10652819/all_p7.html

 Jadi ceritanya saya baru pertama kali mendapat undangan ke luar negeri saat itu, jadilah perencanaan trip ke luar negerinya tidak teratur, saya banyak berserah kepada Yang Maha Kuasa saja (jangan ditiru). Saya tidak mendapatkan teman seperjalanan, walaupun cukup banyak mahasiswa Indonesia yang diundang ke acara itu. Saya tidak mencari info terlebih dulu mengenai tempat yang bisa saya tinggali setelah acara itu selesai. Saya tidak juga mencari tahu terlalu banyak mengenai transportasi dan tetek bengek lainnya, yang seharusnya saya cari tahu sebelumnya. Maklum, first-timer saat itu. Namun dari ketidaksempurnaan persiapan saya inilah, akhirnya saya bisa bercerita kepada pembaca semua dalam artikel ini.

 

Berangkaaat!
Pengalaman pertama saya itu, banyak menyadarkan saya betapa tangan-Nya bermain dalam banyak sekali skenario perjalanan ketika itu. Contohnya saja dalam perjalanan saya menuju ke negara tujuan; saya mengambil rute penerbangan yang memungkinkan saya untuk menekan anggaran pembelanjaan. Jadilah saya mengambil rute ke Malaysia dulu dengan tiket yang lumayan murah, kemudian mengambil penerbangan ke negara tersebut di hari dimana tiketnya paling murah pula. Maklumlah, karena sponsornya tidak memungkinkan penerbangan eksekutif. Karenanya, saya harus tinggal dua hari di Kuala Lumpur, sebelum penerbangan ke negara tujuan—but trust me it was worthed—dan saya pun berhasil memotong hampir 50% biaya penerbangan.

agustus 2

Gambar via: https://howsyourma.wordpress.com/2010/09/01/the-airport/

But that was not the point of the story, saya kemudian berangkat di hari ketiga dengan bayangan bahwa saya akan berada dalam penerbangan yang panjang dan sepi, kemudian berjuang sendirian dengan segala tetek bengek shuttle bus sebelum mencapai tempat acara. Tuhan berkata lain, saya dipertemukan begitu saja dengan dua rekan dari Indonesia yang juga akan menghadiri acara tersebut, plus setelah sampai di bandara negara tujuan, kami bertemu pula dengan 3 orang rekan Malaysia. Baru saya tahu setelahnya bahwa teman-teman ini adalah obat untuk kami yang sudah ketinggalan shuttle bus.

Tengah malam di negara antah berantah. Kalau negara ini adalah negara berbahasa Inggris, saya tidak akan secemas itu, tapi ini lain ceritanya. Kami kemudian menaiki bus hasil bertanya kepada para petugas di sana, but seriously, we had completely no idea where we were going. Jadilah kami ribut berembuk di dalam bus tersebut, hingga akhirnya diteriaki supir bus berbahasa antah berantah itu. Namun tangan-Nya bermain lagi kali itu, seorang pelajar yang saya ganggu dengan bahasa seadanya, mengajak kami turun di pemberhentian yang katanya dekat dengan tempat tujuan kami. Dari situ, pelajar tersebut kemudian membayari kami taksi yang langsung mengantar kami ke tempat acara (ternyata masih jauh lokasi acara masih jauh).

Bantuan-Nya ini tak pernah lepas saya rasakan sepanjang perjalanan. Setelah acara itu selesai, saya yang belum punya tempat untuk tinggal sebelum kembali ke tanah air, ditawari seorang rekan dari Mesir yang kebetulan sedang stay di negara tersebut dalam rangka exchange, untuk menginap di student hostel tempat ia tinggal. That’s not where it ended fellas, rekan lain dari negara tersebut, menawarkan diri untuk mengantar saya ke tempat tersebut, yang ternyata lumayan sulit untuk dicari. Mereka membantu menggotong-gotong koper saya yang beratnya alamak. Skenario sempurna yang hanya bisa diciptakan oleh-Nya.

agustus 3

Gambar via: http://stuckattheairport.com/tag/luggage/

 

Perjalanan Pulang
Ketika saya hendak pulang ke tanah air pun, skenario-Nya kembali bermain. Out of nowhere, saya yang menjelajah kota sendirian, bertemu dengan rekan Malaysia yang pada saat berangkat, sepenerbangan dari Kuala Lumpur ke negara ini. Dia pun menawarkan saya untuk berangkat bersama dengan rombongannya ke bandara, karena kebetulan jadwal penerbangan pulang kami sama. Di bandara Malaysia, saya harus stay overnight lagi untuk flight saya pagi berikutnya. I got another surprise company dari teman-teman Indonesia yang punya flight berbeda, tapi jadwal yang berdekatan, sehingga mereka juga harus stay overnight di bandara.

Pendek cerita, ada beberapa pelajaran yang teman-teman bisa pelajari dari cerita saya. Pertama, jalin komunikasi yang baik dengan teman-teman mahasiswa Indonesia di negara tujuan, ketika akan menghadiri acara-acara yang berbasis delegasi seperti ini. Hal-hal yang saya alami, sebenarnya tidak perlu terjadi jika saya sudah membangun komunikasi yang baik dengan teman-teman mahasiswa Indonesia lain. Kedua, keterbatasan kita sebagai manusia, baik dalam perencanaan maupun eksekusi, kadang-kadang menciptakan kesempatan untuk kita melihat kembali bahwa skenario yang sudah Tuhan rancang begitu sempurna. Sekian, semoga bermanfaat. (TC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now