Pengumuman Hasil Seleksi Fasilitator Youth Connection 2017
03/05/2017
MITI KM Perkuat Hubungan Kerjasama dengan Mahasiswa Jabodetabek dan Banten
15/05/2017

IDM (Internal Discussion for MITI KM) #4

Tanggal: 13 Mei 2017

Pemateri: Nurul Imansari, S.S.,M.A (Awardee LPDP, Alumnus English Literary Studies, Lancaster University, UK)

Mungkin teman sekalian yang sudah familiar dengan ini dan sudah pernah ikut tes IELTS sebelumnya. Bagi yang belum, IELTS itu sejenis tes untuk mengukur kemampuan bahasa inggris seseorang yang akan belajar ke Negara-negara yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. IELTS terbagi dalam 4 sesi yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking.

Kalau teman-teman ingin mengambil tes IELTS, persiapan yang matang tentu sangat sangat diperlukan. karena biayanya yang lumayan mahal sekitar 2,8 juta sekali tes. Sebelum mengambil tes IELTS, pemateri sempat mengikuti IELTS Preparation Course secara intensif yang diadakan oleh pusat bahasa ITB selama kurang lebih 3 bulan sebelum mengikuti actual test di British Council bandung. Kebanyakan buku yang yang digunakan untuk belajar dan latihan adalah dari seri IELTS Cambridge 1-9, Baron dan Collins.

Selama 3 bulan menjalani pelatihan IELTS di ITB, pemateri juga mempersiapkan diri dengan membuat semacam jadwal latihan ketika kelas telah berakhir. Jadi setiap malam setelah kelas selesai, kadang belajar sendiri di kamar atau dengan teman sekelompok dengan mengikuti jadwal yang telah dibuat sendiri. Misalnya hari senin malam latihan listening, selasa latihan reading, rabu latihan writing dan kamis latihan speaking begitu seterusnya. Khusus writing, biasanya meminta tolong dosen pengajar IELTS di ITB untuk memberikan feedback terhadap tulisan beliau. Atau juga biasanya mengirim tulisan ke [email protected] untuk di berikan feedback dan masukan masukan. Kalau kamu merasa skill yang kurang di bagian tertentu, misalnya di bagian writing, maka kamu perlu lebih banyak berlatih pada skill writing yang kamu rasa kurang tersebut dan tentu lebih banyak berlatih pada skill itu. Belajarnya harus konsisten dan disiplin sehingga setiap beberapa minggu kamu bisa mereview masing-masing skill dan mengerjakan lebih banyak lagi soal latihan.

Berikut beberapa tips bagaimana strategi dalam mengerjakan soal IELTS:

  1. Listening

Untuk listening, memperbanyak latihan dengan mengerjakan practice test dari buku dan juga Latihan sesering mungkin dengan mendengarkan percakapan atau berita bahasa inggris dari film, video-video bbc, TED, dan berita luar negeri. Pada saat test listening, kamu bisa buat catatan di buklet dan kasih tanda jawaban yang kamu pilih nanti setelah itu kamu bisa menggantinya di lembar jawaban. Kalau kamu stuck di satu soal yang sulit sekali, tebak saja jawabannya, jangan terpaku di satu pertanyaan itu. Kata-kata dalam pilihan jawaban biasanya tidak akan sama dengan di audio, biasanya menggunakan sinonim atau paraphrase. Jadi banyak-banyaklah menghafalkan kosakata. Hati-hati juga dengan spelling, satu saja huruf yang kurang maka akan dianggap salah dan jangan lupa pula ikuti kaidah penulisan bahasa, beberapa kata harus ditulis dengan Capital letter seperti nama orang atau Negara.

  1. Reading

Untuk reading, supaya terbiasa dengan teks teks reading, biasanya membiasakan diri membaca artikel-artikel berita seperti the guardian atau bbc news, Koran, novel dan majalah berbahasa inggris dan mencatat dan mengingat kosakata baru yang ditemukan. Dalam mengerjakan reading test, pakailah waktu dengan efisien dan tepat, juga kemampuan kita dalam skimming dan scanning itu juga sangat penting. Topik topik dalam reading teks  beragam dan luas. Mulai dari sejarah, pendidikan, ekonomi, politik, dan banyak bidang ilmu lainnya. Jadi kita harus siap dengan semua jenis tema yang ada.

Scanning dan skimming paling penting di reading, karena kita berburu dengan waktu. Kalau istilah-istilah ilmiah di reading teks yang mungkin sangat asing, biasanya akan dijelaskan di dalam reading teks. Jadi kita harus ekstra hati-hati, kita harus bisa memahami arti dari kata asing itu dengan membaca keseluruhan konteks kalimat. Tidak menerjemahkan kata perkata.

  1. Writing

Strategi yang digunakan dalam mengerjakan soal writing yaitu dengan menulis jawaban sesuai struktur dan membaginya dalam 3 bagian, yaitu pembukaan, isi dan penutup. Cermati perintah soalnya dan jawab sesuai dengan perintah soalnya. Jangan lupa kalau soalnya opini atau argument, berarti nyatakan dengan jelas posisi kita dalam tulisan apakah setuju dengan statement atau tidak, dan kemudian didukung dengan argument yang jelas dan rinci. Biasanya sebelum menulis, alangkah baiknya membuat draft atau outline struktur yang akan ditulis. Pelajari topik topik yang sering keluar di writing IELTS dan kalau bisa hafalkan juga kosakatanya. Perbanyak pula kosakata kosakata advance.  Efisienkan 3 menit terakhir untuk mengecek spelling dan grammar di tulisan kita.

  1. Speaking

Biasakan berlatih speaking dengan berbagai cara misalnya bercakap dengan bahasa inggris bersama teman atau bisa juga sendirian di depan kaca. Biasanya untuk meredam rasa gugup, bayangkan saja kalau examiner nya itu adalah guru kita, jadi kita sudah kenal akrab dan tidak merasa nervous. Rasa nyaman dan rileks kita sangat penting dalam speaking test. Di speaking part 2, kita akan diberi kesempatan menulis outline selama 1 menit, jangan habiskan waktu persiapan itu dengan menulis kalimat lengkap dan detail. Tulis saja poin-poin pentingnya. Perlu juga kita memperhatikan grammar dan penggunaan tenses yang tepat. Kalau kamu merasa examinernya memberikan pertanyaan yang kurang jelas, kamu bisa minta dia ulangi atau menjelaskan pertanyaannya.

Berbicara konsistensi belajar IELTS, Kalau untuk konsisten belajar sebaiknya buatlah jadwal seperti yang sudah diceritakan di atas. Harus ada target berapa yang mesti dicapai. Belajarnya harus bersambung, jangan terputus. Belajar lalu berhenti lalu belajar lagi. Karena biasanya strateginya jadi lupa lagi. Jadi setiap hari usahakan latihan agar terbiasa dengan bentuk soalnya. Kalau sudah terbiasa jadinya kita bisa fokus kepada usaha bagaimana bisa memahami isi test nya. Berbicara efektif atau tidaknya, ini sesuai dengan kemampuan masing-masing dan tergantung target yang ingin di capai. Biasanya sebelum take ielts, kita try out dulu untuk mengetahui berapa perkitaan skor kita. Kalau agak jauh dari target mungkin butuh preparation lagi. Karna ielts punya strategi-strategi khusus yag memang butuh latihan terus menerus. Kalau online dan belajar mandiri boleh saja asal disiplin. ada yang belajar mandiri tapi sangat konsisten bisa mencapai target dalam sebulan hingga dua bulan.

Bagian paling menantang menurut beliau terletak di writing session. Karena tidak terbiasa menulis dengan bahasa inggris dan dengan bahasa yang akademik. Karena academic writing sendiri ada strukturnya. Jadi kadang menghabiskan waktu yang lumayan banyak untuk berlatih menulis dan memahami bagaimana native speaker menjelaskan data maupun memberikan opini dan argumennya dengan bahasa yg akademi. Sering membaca soal-soal dan contoh jawaban-jawaban writing yang ada di buku latihan ielts. Biasakan diri menulis dengan topik-topik yang sering muncul di soal latihan ielts. Menulis dan membandingkan jawaban dengan jawaban yang disediakan di website atau buku apakah poin dan detail yg ditulis cukup mirip dengan contoh jawabannya. Setelah itu, juga coba menghafal kosakata baru yang berkaitan dengan topik soal writing. Misalnya topik ttg ekonomi atau politik dan lain-lain.

Buku yang direkomendasikan untuk latihan IELTS adalah seri Ielts cambridge 1-9, soalnya berdasarkan soal-soal yang sudah pernah diujikan sebelumnya, jadi memang lebih ekuivalen. Kalau di buku Barron’s itu untuk menambah kosa kata dan sekedar latihan bentuk soal saja. Kalau rekomendasi website bisa kunjungi laman tersebut www.ielts-exam.net, www.dcielts.com, ielts-simon.com

Apakah ada korelasinya jika mengambil tes IELTS paling tidak kita sudah punya score toelf itp diatas 500? Kalau belum mencapai itu apakah tidak disarankan untuk ambil ielts? IELTS sangat berbeda dengan TOEFL. Tapi kalau kita sudah punya TOEFL ITP diatas 500 artinya kemampuan bahasa inggris kita sudah sangat baik. Karena dalam tes IELTS  kemampuan grammar, vocab dan structure sangat penting. Kita tinggal mempelajari strategi mengerjakan ielts dan membiasakan diri dengan bentuk soalnya. Tidak mengapa mengambil ielts meskipun skor toefl belum mencapai 500, tapi ini membutuhkan waktu dan usaha ekstra karena butuh lebih banyak waktu untuk belajar memperdalam vocab, grammar dan skill lain.

Praktik kecurangan dalam tes IELTS peluangnya sangat kecil sekali dan bahkan hampir tidak bisa, Karena pelaksanaan tesnya yang sangat ketat. Pesertanya diperiksa dengan ketat dan dipotret kemudian di scan sidik jarinya. Tidak boleh membawa perlengkapan apapun kedalam ruang tes dan pengawasnya ada 3 sampai 4 orang.

Kurang lebih 13 hari setelah take ielts kita bisa lihat hasilnya via website. Kalau mendapat skor 9 di writing itu tingkat kesulitannya lumayan tinggi karena hampir setara dengan kemampuan native. Intinya biasakan menulis dan latihan setiap hari mengerjakan soal soal writing. Pelajari bagaimana pola native speaker menuangkan argumen ke dalam tulisan. Perbanyak kosakata yang baru juga.

Ketika kita tiba saatnya take IELTS merasa drop/galau/pusing sendiri/kurang PD, apa yang mestinya kita lakukan supaya cepat kembali ke kondisi semula. Mengingat biaya test yang cukup mahal? Ini memang sangat normal terjadi. Kadang sudah sangat jenuh selama proses ini, mengerjakan hal yang sama setiap hari. Tapi balik lagi karena sudah komitmen dengan target dan keinginan lanjut sekolah jadi harus berjuang sampai akhir. Karena sebenarnya IELTS bukan buat ‘susah‘. Tapi ini juga untuk kebaikan diri sendiri biar nanti pas sekolah bisa mengikuti alur sistem perkuliahan diluar dengan baik.

Sekian IDM # kali ini. Semoga bermanfaat…

 

Disadur oleh Muhammad Faruq Al Hadid, S.M—Staf HLN MITI KM 2017

#MITIKM2017 #FromHLNwithLove #IDM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now