Foto dan Testimoni Para Mentor Youth Connection 2016
26/03/2016
Gambaran Pelaksanaan Seleksi Beasiswa LPDP
26/03/2016

Belajar Bahasa Asing

Borderless world merupakan istilah yang tentu sudah tak asing lagi di telinga kita, para kaum intelektual setidaknya, yang memiliki awareness terhadap dinamika nasional dan internasional. Terbentuknya berbagai organisasi kawasan dengan kebijakan penyatuan beberapa elemen kehidupan bernegara berupa mata uang, pasar dan wilayah (kawasan bebas visa misalnya) seperti yang dicontohkan oleh European Union atau Masyarakat Ekonomi ASEAN, menjadikan dunia ini hampir sama sekali tidak bersekat. Perkembangan teknologi dan informasi juga menambah signifikansi dunia tanpa batas ini. Interaksi intens antara masyarakat yang berbeda bahasa dan budaya tidak lagi menjadi pemandangan yang luar biasa. It’s almost our everyday life.

Semakin pentingnya penguasaan bahasa asing di samping bahasa ibu merupakan salah satu dampak signifikan yang disebabkan oleh “hilangnya batas-batas” antar negara, wilayah maupun budaya ini. Tidak hanya sebagai dampak, keinginan penguasaan bahasa asing dapat pula dianggap sebagai efek dari borderless world ini. Pesatnya laju pertukaran informasi memungkinkan pertukaran dan akses pengetahuan terhadap masyarakat satu negara dengan negara lain, dalam hal ini dapat berupa gaya hidup , kebudayaan dan sebagainya. Akses tersebut memungkinkan peningkatan ketertarikan dari satu masyarakat terhadap elemen kehidupan masyarakat lainnya yang kemudian mendorong keinginan penguasaan bahasa.

Saya pernah mendengar seorang teman mengatakan “Jika anda bisa marah dalam bahasa asing, artinya anda telah menguasai bahasa tersebut”. Lucu terdengarnya, tapi pernyataan ini ada benarnya, mengapa? Karena dalam keadaan marah seseorang tidak mungkin mampu mengucapkan sesuatu dengan perencanaan, semuanya pasti yang ada didalam kepalanya. Masuk akal bukan? Well, cobalah sekali-kali tes diri anda ^^.

Bagi saya pribadi salah satu syarat untuk mampu menguasai bahasa asing adalah alasan dibelakang kenapa anda ingin menguasai bahasa tersebut. Ketika ada faktor pendorong dibalik usaha anda tersebut, it will be easier. Contohnya seorang teman ingin menguasai bahasa jepang karena Ia menyukai manga atau anime jepang, yang lainnya ingin menguasai bahasa perancis karena ia menyukai Paris dan romantismenya. Jika anda memiliki faktor pendorong ini, usaha penguasaan bahasa asing anda akan sedikit lebih lancar.

Selanjutnya adalah campuran muka badak dan keberanian. Banyak orang yang tidak kunjung menguasai bahasa tersebut karena tidak sering mempraktekkannya. Padahal praktek adalah kunci paling utama dari upaya penguasaan bahasa asing. Keengganan mempraktekkan dimungkinkan oleh faktor eksternal umumnya, judgement dari sekitar. “Malu dibilang sok pinter”, “Males ah ntar dibilang sok inggris”. Ada dua mentalitas yang harus kita berantas dari kasus ini. Pertama, mentalitas cemooh yang masih dimiliki oleh beberapa kalangan dan mentalitas terlalu peduli dengan pendapat orang lain.  Tell them, I don’t give a damn. Sekali kali boleh lah kita tidak peduli dengan pendapat orang lain. Mempraktekkan berbicara dalam bahasa asing tersebut, yang walaupun awalnya banyak ga benernya, tapi dengan berjalannya waktu dan semakin sering pemakaian bahasa ini anda akan semakin menguasainya. Nah, kita tentu butuh partner ataupun kelompok yang memiliki kesamaan minat dengan kita sebagai media untuk mempraktekkan komunikasi dengan bahasa asing tersebut. Komunitas pencinta bahasa dan budaya atau teman yang memiliki kesamaan minat dan muka badak serta keberanian adalah media paling pas untuk ini. Karena at the very least you need a partner in “crime”. Selain dari pada itu masalahnya lebih teknis. ^^

ditulis oleh: Teesya Chairunnisa (HLN-MITI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now