Seminar GPL di Purwokerto: “Kedaulatan Pangan: Harga Mati!”
04/10/2015
Innovator Forum “Teknologi Tepat Guna untuk Akselerasi Industri & Wirausaha Lokal”
06/10/2015

Medan [MITI KM News] – Pada hari Sabtu tanggal 3 Oktober 2015 Generasi Mahasiswa Ilmiah (Gemail) dan Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah menyelenggarakan kegiatan Talkshow Go Pangan Lokal (GPL) yang dihadiri tidak kurang dari 300 peserta. Kegiatan talkshow ini merupakan salah satu dari kegiatan Go Pangan Lokal yang diadakan di 10 kota besar di Indonesia yang digagas oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Klaster Mahasiswa. “Kegiatan diadakan karena rasa empati kami selaku mahasiswa kepada bangsa yang dijuluki dengan bangsa agrikultura namun kita hanya bisa menelan pil pahit dengan kenyataan bahwa negara kita tak lepas dari kegiatan import. Kita berharap indonesia bisa mendulang masa keemasanya seperti tahun 1985 yaitu swasembada pangan”, tungkas Akum dalam kata sambutanya selaku ketua panitia. Agenda ini juga dimeriahkan tari-tarian tradisional etnis melayu yang dibawakan oleh UKM Seni UMN Al-Washliyah.

IMG_3498

Dalam sambutannya, Akum Laksana selaku Ketua Panitia acara Talkshow menyampaikan pepatah Soekarno yaitu, kita adalah apa yang kita makan. Pada kesempatan lain, ketua Himagri UMNAW yakni, Khairul Awal diikuti oleh koordinator GPL wilayah Sumbagut yang disampaikan oleh Sahri Ardalina. Keduanya menyampaikan ucapan terima kasihn  kepada peserta dan himbauan kepada peserta untuk selalu mengonsumsi pangan lokal. Selain itu, koordinator GPL Sumbagut ini menyampaikan histori dari tujuan terwujudnya acara Go Pangan Lokal ini adalah kurangnya minat masyarakat Indonesia mengonsumsi produk lokal negaranya sendiri. Sebagai penutup sambutan sekaligus pembukaan acara disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian UMNAW yakni Bapak Ir. Zulkarnaen, M.Si diikuti dengan do’a pembukaan.

Pada bagian inti acara, Bapak Ir. Suyono, MM selaku pembicara I menyampaikan topik tentang ketahanan pangan. UU No.18 Tahun 2012 tentang pangan menjadi awal pembukaan materi. Beliau menambahkan upaya peningkatan ketahanan pangan adalah masalah seluruh bangsa. Perlu keseimbangan dalam mengonsumsi makanan. Beliau juga menuturkan bahwa ada rasa optimis agar pangan lokal bisa berkembang ke depan, untuk itu ada harapan besar bagi negara kita untuk berubah menjadi lebih baik, khususnya Provinsi Sumatera Utara. Pangan lokal sangat mempengaruhi stamina tubuh kita hingga kita berada diusia tua tambah beliau. Dalam presentasinya, kementan menjabarkan target sukses ke depan yaitu, Swasembada: Padi, jagung dan kedelai; Peningkatan produksi: Tebu, hasil ternak, cabe dan bawang merah; Diversifikasi pangan: Peningkatan kualitas konsumsi dan penurunan konsumsi beras. Pak suyono memberikan himbauan kepada peserta talkshow untuk datang pada acara Lokal Food Day (LFD) pada tanggal 18 Oktober 2015, karena akan dibagikan booklet pangan lokal yang sudah dipersiapkan oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sumatera Utara. Selanjutnya, beliau menekankan bahwa ada perbedaan makna antara pangan lokal dengan pangan khas. Pangan lokal adalah pangan yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi dan SDA setempat, sementara pangan khas itu adalah pangan yang asal usulnya secara biologis ditemukan di suatu daerah. Banyak program – program yang sudah dilakukam Kementan untuk mengajak masyarakat lokal setempat lebih mengutamakan pangan lokal salah satunya adalah one day no rice setiap hari Selasa. Salah satu tujuan dari program tersebut sebagai antisipasi masalah lambung.

Pemateri kedua menyampaikan topik tentang perlunya teknologi untuk mempermudah memproduksi pangan lokal. Beliau menuturkan, ternyata tanpa kita sadari masyarakat luar indonesia senang mengonsumsi produk – produk lokal indonesia dan sebaliknya masyarakat lokal Indonesia lebih menyukai mengonsumsi makanan – makanan instan dari negara lain. Contoh – contoh perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap produk lokalnya membuat peserta talkshow mendengar sangat serius. Beras adalah salah satu produk yang menjadi contoh produk import di Indonesia dan beras yang import yang bermerek ini menjadi pilihan masyarakat banyak, padahal banyak beras lokal di Negara Indoensia contohnya seperti dari daerah Asahan yang bisa dikonsumsi. Hal ini berarti strategi pengemasan ataupun teknologi dari sebuah produk itu sangat mempengaruhi minat masyarakat tambah beliau, sehingga masalah ini bisa dimanfaatkan menjadi peluang terciptanya teknologi.

Selanjutnya beliau juga mengajak seluruh masyarakat terutama peserta talkshow untuk tidak malu memproduksi dan mengonsumsi produk dengan budaya Indonesia. Pada akhir penyampaian materinya beliau memekikkan “Aktivis gemar dengan produk lokal”. Dengan demikian kita yang mengajak maka kita yang harus menjadi pelaku pertama untuk apa yang kita rencanakan.

Pemateri yang ketiga adalah seorang pengusaha muda dalam bidang pangan lokal yaitu durian dan diolah menjadi sebuah produk pancake. Beliau menuturkan beberapa strategi memulai suatu usaha, diantaranya: Tentukan produk – produk lokal dan itu biasakan inspirasinya natural dari kehidupan sehari-hari; Unique Selling – memberikan persiapan pengemasan se-kreatif mungkin; Pemasaran, bagaimana strategi distribusi produk dan pemanfaatan media sosial sebagai sarananya. Beliau juga menambahkan sebuah produk usaha dikenal sangat dipengaruhi dari teknologi yang digunakan.

Pada akhir dari bagian ini, moderator hanya memilih 5 orang penanya. Hal ini disebabkan keterbatasan waktu dari yang sudah direncanakan. Padahal sangat banyak peserta yang antusias ingin berdiskusi. Pertanyaan yang diajukan peserta adalah terkait solusi efektif agar pangan lokal ini secepatnya dapat diimplementasikan di masyarakat, selain itu, terdapat pula pertanyaan mengenai perubahan mindset yang lebih baik hingga pemilihan usaha pangan lokal.

Acara talkshow ini terselenggara dengan baik, pada akhir acara panitia memberikan cendramata kepada seluruh pembicara dan hadiah bagi setiap penanya. Selanjutnya diikuti dengan sesi dokumentasi. Acara ini juga diliput oleh media lokal Sumatera Utara yakni TVRI. [AKM/MIF]

1 Comment

  1. Azizah says:

    gambarnya blur ya..

Buy now