Belajar nulis essay bareng awardee LPDP
11/05/2018
MENGENAL LEBIH DEKAT BEASISWA LPDP (3)
03/06/2018

Scholarship Discussion HLN MITI KM

Edisi April 2018

Pemateri:

            Valina Khiarin Ilisa

  1. Alumni Universitas Airlangga
  2. Master candidate in University of Groningen, UK
  3. Awardee LPDP Scholarship 2017

LPDP adalah beasiswa dari negeri, pakai uang rakyat, jadi jangan sampai ketika diterima, pulang-pulang tak mau mengabdi. Sebenernya selain sudah gagal tujuh kali di beasiswa, saya pernah gagal sekali beasiswa LPDP tahun 2016 karena administrasi saya sepertinya kurang rapi, Saya gagal bahkan di tahap pertama (administrative). Tantangan terbesar kayaknya soal syarat IELTS dan bagaimana menenangkan diri saat Tes Online Kepribadian dan Seleksi Substantif (Wawancara, FGD dan Essay On The Spot). Tantangan untuk bisa menjadi diri sendiri, sekaligus bagaimana meyakinkan bahwa kita layak menjadi satu dari penerima beasiswa LPDP. Bagaimana tetap rendah hati, namun harus percaya diri.

Mengenai tes kepribadian online, saya pribadi sengaja *membahagiakan* diri saya seminggu terakhir sebelum tes, saya tidak mau kepikiran atau apa, karena saya tahu tes kepribadian *bukan karena BENAR / SALAH*, namun menunjukkan *INTEGRITAS, KEJUJURAN dan KONSISTENSI* kita. Soalnya ada ratusan, banyak banget, dan bisa jadi soal nomor satu sama dengan soal nomor dua ratusan tapi dengan kalimat yang berbeda. Nah, pastikan semalam sebelumnya tidak kecapean, istirahat cukup, dan TENANG saat mengerjakan.

Kemudian, kalo bicara tips dan trik, sebenarnya saya tidak punya ya udah bismillaah dijalani saja sesuai dengan niat kita. niat mencari ilmu di belahan bumi Allah yang lain, dan menebar manfaat.

Kemampuan Bahasa. Saya mencoba beasiswa LPDP dua kali. Di awal tahun 2016, saya fokus mempersiapkan TOEFL-ITP karena pada saat itu masih boleh memakai TOEFL-ITP untuk mendaftar beasiswa tujuan Luar Negeri.  Namun, qadarullah, saya dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi di seleksi LPDP Batch 4 2016. Ya, ini agak tamparan buat saya, artinya ada yang tidak beres dari berkas saya, saya jadi bener-bener belajar lebih teliti.

Ternyata, di awal  Februari  2017, saat LPDP Edufair di UNAIR, Dirut LPDP saat itu mengatakan bahwa TOEFL-ITP sudah tidak berlaku untuk tujuan Luar Negeri, calon penerima beasiswa *WAJIB* menggunakan IELTS minimal 6.5 atau TOEFL IBT minimal 79. Nah akhirnya mau ngga mau harus ngejar IELTS sesuai syarat minimal LPDP. Jangan merasa berjuang sendiri. Berjuang bersama-sama jauh lebih menyenangkan daripada sendirian. Karena bulan Januari 2017 hasil IELTS saya masih 6.0, Alhamdulillah saya punya temen-temen yang inisiatif buat ngajak latihan speaking dan writing bareng. Kalo punya partner yang ngasih masukan, insyaAllah bakal lebih objektif daripada belajar dan menilai sendiri. Tapi, saran saya teteplah belajar mandiri untuk lebih well-prepared, ngga usah malu untuk sesekali belajar speaking di depan cermin sambil lihat ekspresi  sendiri, dan menargetkan *satu* tulisan berbahasa inggris setiap harinya (sesuai dengan kaidah IELTS task 1 atau task 2).

Self-study dan belajar kelompok  harus seimbang. Kalo saya dulu, sejak januari 2017 udah intensif cari sekolah dan belajar IELTS untuk beasiswa. Saya kerja 8 jam, jadi baru bisa belajar malam hari dan ba’da shubuh. Ba’da subuh ini enak buat belajar listening dan reading, usahakan pake sepaker dan dalam kondisi yang kondusif. Nah, malamnya saya pake belajar bareng sama temen-temen saya, buat latihan speaking dan koreksi writing

Tentang 3 Essay LPDP. Untuk penulisan essay, di persyaratan ngga ada keterangan khusus mau bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tapi saya inisiatif saja menggunakan bahasa Inggris. Saya belajar untuk meruntuhkan ambisi saya. Kita hanya diberi kesempatan menulis 500-700 kata untuk menggambarkan *Sukses Terbesar dalam Hidupku*, *Kontribusiku Untuk Indonesia* dan *Rencana Studi*. Nah di bagian Sukses Terbesar dalam Hidupku, pastikan satu atau dua saja, tapi mendalam. Tidak perlu menyebutkan semua kesuksesan kita selama kuliah karena toh itu akan terlampir di CV Online di halaman pendaftaran LPDP. Jadi cukup satu atau dua kesuksesan yang *BERHUBUNGAN* dengan Kontribusi kita (dulu, saat ini maupun masa mendatang). Intinya, ketiga essay ini *tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan satu sama lain*.

Nah, beberapa diantara kita (termasuk saya) pasti pernah dong minta ke awardee LPDP sebelumnya untuk melihat Essay mereka. Boleh boleh saja, tapi cukup disimpan di email kalian dulu, tuliskan saja dengan jujur sesuai versi kita, karena kalo kebanyakan liat essay orang lain, akhirnya mereka jadi acuan dan malah membatasi  diri kita untuk menyelami pencapaian terbaik kita. Setelah selesai membuat versi kita, barulah ngecek sama essay temen kita yang lolos LPDP. Yang paling penting, pilih satu/dua orang saja untuk mengkoreksi  essay kita. Usahakan dosen muda yang akrab sama kita, atau temen deket yang bahasa inggrisnya bagus.

Penamaan berkas. Pastikan semua berkas sudah diupload. Ini penting banget, jangan sampai keteledoran kita menyebabkan kita tidak lolos seleksi administrasi. Akhirnya saya namain pakai angka, sesuai jumlah nomor yang di halaman pendaftaran LPDP, biar tidak ada yang terlewat

Ini yang pertama, dan selalu jadi yang utama. Libatkan Allah, Tuhan yang Maha Kuasa ata segala sesuatu. Perbanyak doa supaya diberi ketenangan. Ini temen-temen pasti lebih paham daripada saya, tapi pas sebelum masuk ruang wawancara, saya inget banget saya baca QS Al Fatihah, Al Insyirah, dan Tahaa ayat 25-28.

  • Kalau cara milih kampus, Wah, sejujurnya saya tidak punya teknik dalam hal ini. Saya hanya melihat peluang, mana yang :
  • persyaratannya sesuai dengan kemampuan kita
  • sesuai dengan minat kita
  • sesuai dengan kebutuhan karir kita juga.
  • Tanya sama orang-orang yang sedang berjuang, rajin-rajin datang ke Edufair untuk dapat langsung informasi dari pihak admission office nya. tapi jangan sering-sering, pengalaman kebanyakan malah dapat capeknya, kalau sudah mantap sama satu kampus, ya sudah mantepin di situ saja.

Kalau saya sendiri, sejak Oktober 2016 menjadi asisten dosen (tenaga kerja kontrak) Fakultas Psikologi Unair, saya punya kontrak yang berisi 2018 harus sekolah dan kembali jadi dosen. Nah, jujur kontrak ini tremor buat saya untuk segera cari sekolah dan beasiswa. Nah, kebutuhan di fakultas yang kurang adalah staf yang ahli di Psikologi Klinis, ya sudah saya ambil jurusan itu di Groningen (yang syarat IELTS nya 6.5)

Kalo belum punya skor IELTS atau belum memenuhi requirement kampus gimana? Ya gapapa daftar aja dulu, Justru nanti ketika dapat Conditional LoA, makin kebakar semangatnya buat ngejar IELTS nya.

Tiap orang punya jalan hidup masing-masing. Saya punya lika liku sendiri, kalian pun juga. Jadi, jangan jangan jadikan pengalaman saya sebagai patokan, hehehe. Dan yang paling penting, libatkan Allah untuk setiap ikhtiar yang kita upayakan ya 🙂

QUESTION AND ANSWER

Q:  Mau nanya saat menulis esai sukses terbesar dalam hidup sedang hidup kita datar datar saja bagaimana solusinya?

A: Barangkali belum kenalan sama diri sendiri. Tapi ini beneran, saya mah yakin banget bahwa Allah pasti memberikan ujian di hidup kita, dan itu yang membuat hidup kita berwarna. Nah, kalo saran dari saya, coba eksplore diri kamu, mumpung masih muda, cari pengalaman, ikutan lomba, ikutan komunitas. Oh ya, bagi yang tadi bilang “wah kak Valin keren blabla” sebenernya kalo format CV adalah list “belum berhasil” dalam hidup saya, pengalaman  lebih banyak dari CV saya, bisa belasan lembar. Tapi saya mah selagi ada pengalaman, coba saja. bagi saya, gagal adalah ketika kita berhenti berusaha. SEMANGAT YA BISMILLAAH. setiap manusia pasti punya pelangi masing masing kok, punya keunikan masing-masing. Coba ditulis di word atau blog setiap pengalaman kita, biar inget juga. Coba napak tilas ke kehidupan masing-masing.

 

Q: Bagaimana cara mendapatkan LoA conditional?

A: Kalo ini tergantung universitasnya. Jadi harus teliti sama requirement di website kampus tujuan. Kalau saya dulu sistemnya upload dokumen juga kayak LPDP. Online Application System gitu. Bisa juga kirim email ke profesor di kampus tujuan.

 

Q: Apakah ada kelas persiapan GRE untuk calon awardee yang memilih USA ?

A: Mohon maaf kalau yang ini saya kurang tahu, karena saya sendiri tidak pakai GRE. Tapi setahu saya, LPDP tidak memfasilitasi hal ini, cuma kalo kumpulan awardee yang inisiatif, bisa jadi ada.

 

Q: (1). Untuk rekomendasi itu kalau tidak dalam bekerja mintanya ke tokoh masyarakat bisa? (2). Sesuai format LPDP, lalu kak seleksi Assesment online itu gimana ya? (3). On the spot essay writing itu biasanya formatnya gimana apakah ditulis tangan dengan bahasa indonesia/english? Durasinya berapa lama?

A: (1). Untuk surat rekomendasi bisa dari tokoh masyarakat, atau dekan fakultas. (2). Essay on the spot formatnya seperti *IELTS WRITING TASK 2* jadi kita dikasi waktu *40 menit* buat menulis satu topik yang diberikan oleh panitia (kalo saya dulu disuruh milih, ada dua opsi).

 

Q: Apakah kakak langsung daftar LPDP atau bekerja terlebih dahulu. Dan jika tidak ada, menurut kakak manakah yang lebih bijak terhadap 2 opsi tersebut?

A: Saya lulus dari Psikologi Unair September 2015, waktu itu keadaan mengharuskan saya kerja dulu. Karena saya belum memenuhi syarat bahasa inggrisnya. Kalau kamu sudah memenuhi syarat, ya gapapa coba aja apply LPDP langsung. Kalo saya, pengalaman kerja membuat saya lebih fokus dan lebih kaya di essay nya bukan bijak/tidaknya sih, tapi lebih tergantung ke kondisi masing masing. kenyataannya ada kok anak 2013 yang keterima LPDP bareng sama saya (saya angkatan 2011).

 

Q: Menurut pengalaman kakak, apakah application fee yang dibayarkan pada saat pendaftaran ke universitas ditanggung oleh pihak LPDP atau pakai biaya kita sendiri ? Dan jika memakai uang kita, apakah bisa refund ke pihak LPDP ?

A: bisa, akan diganti oleh LPDP ketika kamu mendaftar statusnya sudah jadi awardee, kalo di sistem simonev (sistem monitoring evaluasi), ada bagian Application Fee, jadi kita bisa request diganti.

 

Q: Saya pernah membaca buku berkenaan dengan LPDP ini sendiri. Didalamnya kan ada bahasan tentang FGD. Itu gimana ya kak tips dan trik nya biar sukses gitu? apalagi buat yang jarang aktif kalau lagi diskusi.

A: Kalau di LPDP, namanya LGD, L nya sendiri merupakan singkatan dari LEADERLESS. Saya juga susah ngomong di depan publik kok, tapi harus belajar. Tips kalau dari saya : (a). Selalu senyum saat mengutarakan pendapat dan ucapkan terima kasih ke orang yang sebelumnya, (b). Ngga usah terlalu ngotot bahwa pandangan kita paling benar, karena bukan itu yang dinilai, lebih ke kedewasaan kita dalam menyikapi perbedaan, (c). Ambilah peran, mungkin sebagai pemberi kesimpulan, tapi jangan mendominasi, karena leaderless.

 

Q: Apakah kita wajib aktif dalam keorganisasian untuk mendapatkan beasiswa ini?

A: Tidak wajib, tapi dengan kita berorganisasi, akan menambah pengalaman kita, makin percaya diri juga, dan siapa tahu jadi lahanmu untuk bermanfaat. tidak ada keterangan wajib dari LPDP

 

Q: Organisasi seperti apa yang baik untuk kita ikutin? Apakah banyaknya organisasi menentukan ?

A: Banyaknya organisasi tidak menentukan, lebih ke kontribusi/peran kita terhadap organisasi yang kita pilih. Kalau saya dulu pas wawancara ditanya “2 organisasi terbaik yang kamu ikuti dan peranmu apa? apa yang membentuk dirimu dari organisasi itu?”

 

Q: Apakah IPK 3.00 dan prestasi yang tidak banyak bisa kemungkinan besar lolos LPDP ?

A: Wah ini pertanyaan yang sulit saya jawab. Karena ada banyak faktor. Teman saya, ada yang keterima LPDP IPK nya dibawah 3. IPK dan prestasi sebenarnya kan masuk di lembar administratif kan. Saya rasa ngga ada salahnya memperbanyak pengalaman dengan ikut lomba-lomba, kalaupun tidak juara, pengalaman masuk bagian dari prestasi kok (untuk jalur reguler ya, kalo Afirmasi harus juara).

 

Q: Apakah ada kualifikasi khusus ketika ada mahasiswa tingkat akhir yang baru lulus pada semester 2 digit, apakah tetap bisa untuk ikut turut serta dalam seleksi beasiswa LPDP ?

A: Yang jelas, saran saya, eksplore aja diri kamu sebanyak-banyaknya, tidak ada keterangan harus lulus berapa tahun, ada juga kok yang keterima LPDP, lulus S1 nya 6.5  tahun. Justru itu perlu dieksplore, perlu digali, ada kesuksesan dibalik cerita semester 2 digit.

 

Q: Apa alasan terbesar yang paling bakar semangat kakak dan bisa bikin kakak ‘ngotot’ berjuang mendapatkan beasiswa LPDP?

A: Alasan terbesar saya adalah, saya punya cita-cita jadi dosen, untuk jadi dosen harus sekolah S2. Untuk sekolah S2 butuh biaya. Dari sekian banyak beasiswa, menurut saya LPDP yang paling aman dan bisa mengcover 100 persen kebutuhan studi saya. Duh semoga alasan ini tidak dangkal-dangkal amat ya. Terlepas dari itu, saya tidak ingin terlalu memberatkan orangtua saya.

 

Jangan mudah menyerah atas hal hal yang belum sesuai dengan apa yang kita harapkan. Saya baru ketolak 7 beasiswa, yang lain mungkin juga merasakan hal yang sama, yang membedakan adalah mau terus berjuang atau memilih menyerah. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat, kata Nabi. Mau sekolah dimanapun, semoga kita selalu jadi orang yang menebarkan manfaat. Terakhir, harus seimbang antara NIAT, IKHTIAR, dan TAWAKKAL..

 

Disadur oleh : Jamaluddin (Staff HLN MITI KM)

#New Hope New Contribution

#HLN

#MITIKM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now