Merajut semangat kontributif dari kota pelajar
09/04/2018
Discovering the World through Master Degree
10/05/2018

Scholarship Discussion HLN MITI KM

Edisi April 2018

Pemateri:

            Mushonnifun Faiz Sugihartanto

  1. Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
  2. Master candidate in Lund University, Sweden
  3. Awardee LPDP Scholarship 2017

Saya di sini tidak akan terlalu banyak menjelaskan secara detail, karena kesemua informasi tentang LPDP bisa teman-teman dapatkan di website. Sehingga saya berharap nanti saat diskusi tidak muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah ada di booklet dst, misal “Kak, apakah ada beasiswa untuk S-1, Kak kalau ke luar negeri harus pakai toefl apa nggak, dst dst”. Jadi boleh sambil dibuka-buka booklet lpdp nya di sini :

http://beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id/upload/dokumen/Buku%20Panduan%20Pendaftaran%20Beasiswa.pdf

Sebagaimana yang teman-teman tahu, LPDP adalah beasiswa yang ada  semenjak tahun 2012 di bawah kementerian keuangan. Dana yang selama ini diberikan berasal dari gabungan beberapa kementerian antara lain Kementerian Keuangan, Kementerian pendidikan dan kebudayaan, serta kementerian agama. Kalau soal sejarah, visi misi, dst nya bisa teman-teman lihat sendiri di websitenya.

Bisa dibilang ikut LPDP ini dibandingkan beasiswa lain, menurut saya tantangannya tidak kalah berat. Ya, sebab walaupun sainganmu “hanya” berasal dari negaramu sendiri, beda dengan beasiswa AAS, Fulbright, Swedish Institite, dst, tapi pendaftarnya setiap tahun banyak sekali, dan bahkan puluhan ribu. Sementara yang diterima hanya sedikit, apalagi saat ini seleksi LPDP semakin ketat. Ini saya dapatkan dari sebuah website internet, tapi jangan benar-benar dijadikan acuan sekedar gambaran saja, karena lpdp sendiri tidak pernah merilis secara resmi jumlah awardee-nya ada berapa.

Nah, bisa dilihat dari tahun ke-tahun, pada tahun 2017 kemarin yaitu tepatnya saat batch saya, penerima beasiswa mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (kecuali tahun 2013 di mana beasiswa ini baru buka ya). Hal ini menunjukkan LPDP semakin ketat dalam melakukan seleksi . Saya ambil dua contoh simpel, bahwa pada tahun 2017 kemarin, pendaftar harus sudah memiliki sertifikat bahasa inggris (toefl untkk dalam negeri, dan IELTS untuk luar negeri). Padahal tahun-tahun sebelumnya itu tidak harus, alias bisa menyusul. Kedua juga proses seleksi yang menggunakan online assesement yang di tahun-tahun sebelumnya tidak pernah diterapkan. So, berarti ini menunjukkan bagi saya lpdp sedang berusaha meningkatkan kualitas penerima-nya melalui system seleksi yang lebih ketat. Jadi kalau ditanya tantangannya apa? Tentu saja melewati tahap-tahap tes tersebut. Mulai dari berkas, online assesement, sampai tahap terakhir yaitu Essay on The Spot, Interview, & LGD.

Selama proses seleksi, jujur saya banyak terbantu dengan teman-teman saya di Rumah Kepemimpinan PPSDMS (beasiswa yang dulu pernah saya terima saat kuliah, kalau pengen tahu cek di www.rumahkepemimpinan.org . Kebetulan beberapa alumni membuat semacam grup persiapan beasiswa dan kita berjuang bareng buat LPDP ini.

Saya memulai perjuangan meng-apply beasiswa ini semenjak Agustus 2016 lalu pasca menyeleseikan sidang Tugas Akhir. Di saat teman-teman lain rata-rata disibukkan mencari kerja, Alhamdulillah orang tua saya men-support pilihan saya untuk melanjutkan studi. Singkat cerita sebulan saya habiskan di Pare untuk belajar IELTS. Hasilnya ? Hampir bisa dikatakan hanya 15 persen saja kemampuan saya naik. Saya akui memang saya benar-benar gagap dalam berbahasa inggris. Hingga akhirnya pasca itu saya kembali ke rumah untuk menenangkan diri, sembari belajar mandiri. September 2016 saya di wisuda, dan di bulan Oktober 2016 saya memutuskan kembali ke kampung inggris di pare selama 3 bulan. Setiap hari ba’da subuh, hingga sore, dan saya sering belajar mandiri setiap malam, demi meningkatkan kemampuan Bahasa inggris saya. Bisa dibilang saya belajar dengan cara bener bener kayak orang gila pada waktu itu. Demi melancarkan speaking saya, pada waktu itu saya sering nongkrong dan mojok di warung *cari wifi gratis di pare* sambil pake headset, dengerin TED talk yang ada transcript-nya lalu menirukan dengan suara nyaring. Sampai-sampai pernah direkam sama teman saya diam-diam dan dijadikan bahan candaan.

Hari sabtu dan minggu, saya gunakan refreshing dengan cara mencari info beasiswa dan kampus sebanyak-banyaknya. Sehingga praktis tak ada waktu istirahat bagi saya. Akhirnya pada bulan Januari 2017, saya ambil IELTS real test pertama kali, dan Alhamdulillah nilainya cukup untuk mendaftar beasiswa. Dari puluhan beasiswa yang saya list, saya seleksi dan “hanya 13 saja” yang di situ saya memenuhi kualifikasi, juga terdapat jurusan yang saya tuju. Januari 2017, perjuangan saya dimulai hingga singkat cerita Allah takdirkan kegagalan di 12 beasiswa. Waktu itu hanya tinggal 1 saja, yaitu LPDP. Akhirnya saya tak banyak berharap, dan bulan Juli 2017, saya mulai mencari kerja. Tanpa disangka ternyata akhir bulan saya mendapat pengumuman diterima bekerja di Toyota Manufacturing, Jakarta, dengan penempatan divisi sesuai bidangnya dengan S-2 saya.  Di situlah saya berasumsi bahwa barangkali ini merupakan kehendakNya untuk saya dapat belajar di dunia professional dulu. Hingga akhirnya, justru di tengah proses saya kontrak bekerja, singkat cerita justru LPDP yang saya minim persiapan karena selama kontrak training cukup padat, bahkan bisa dibilang saya banyak terbantu oleh teman-teman yang sama-sama berjuang untuk LPDP, justru saya dinyatakan lolos. JawabanNya dan skenarioNya memang tak pernah kita bisa menyangka, bahkan Allah beri saya “bekal finansial” dengan bekerja di sebuah multi national company, serta juga pengetahuan lebih akan perapan bidang saya, logistic dan supply chain di dunia industri.

Ketika saya mencoba merefleksi perjalanan saya dua tahun terakhir, pelajaran yang benar-benar saya ambil adalah bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana, dan Allah pula yang tahu jalan yang terbaik. Bisa dibilang sejak saya selesai sidang hingga sekarang, Alhamdulillah saya tak pernah menganggur. Pasca sidang dan segala revisi selesai, saya ke pare di Agustus 2016, September saya fokus untuk mengurus wisuda, sembari menyeleseikan beberapa administrasi kelulusan, juga belajar mandiri di rumah, Oktober  2016 – Januari 2017 saya lanjut di Kampung Inggris, lalu pertengahan Januari – Juli 2017 saya bekerja di start up Ternaknesia di Surabaya, dan Agustus 2017 – sekarang saya masih bekerja di Toyota.

Nah, ada beberapa tips dari saya terkait ini.

  1. Seleksi berkas

Tips Bikin Berkas LPDP adalah Sejelas-jelas-nya, sebagus-bagusnya, dan dikemas semua dengan rapi seperti:

a). Bahasa Inggris

Bagi saya ini yang paling utama dan kali pertama harus dipersiapkan. Apalagi sekarang LPDP sudah tidak bisa susulan sertifikat seperti dahulu. IELTS atau TOEFL teman-teman atau Bahasa lain (jika apply ke Perancis, Jerman, dst) tentu saja harus sudah memenuhi standar. Untuk IELTS standarnya 6.5, yang lain bisa dilihat di buku panduan. Untuk IELTS, saya sendiri sudah pernah menulis di tumblr saya. Silahkan bisa di kunjungi di sini :  Bagian I : Menyiapkan Meterial IELTS

             https://tmblr.co/ZyDQ1y2ULj4Zo

            Bagian II : Listening

             https://tmblr.co/ZyDQ1y2URmbtY

            Bagian III : Reading

            https://tmblr.co/ZyDQ1y2UW1w2X

            Bagian IV : Speaking

            https://tmblr.co/ZyDQ1y2UtyRnb

            Bagian V : Writing

            https://tmblr.co/ZyDQ1y2Vl1cdf

b). Essay

Terdapat tiga macam essay yang harus teman-teman buat di sini:

  • Aku dan Kontribusiku untuk Indonesia

Ini isinya tentang kontribusi yang telah/sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat. Berdasarkan pengalaman saya kemarin, silahkan jelaskan kontribusi yang futuristic yang nyata. Berangkatlah dari persoalan nyata masyarakat Indonesia, kemudian teman-teman memiliki solusi apa, dan tulis apa yang sudah teman-teman lakukan untuk mencapai kontribusi tersebut. Sehingga ada past (lampau, atau yang sudah teman-teman lakukan), kemudian saat ini (kontribusi sekarang dalam menunjang mimpi masa depan teman-teman), serta di masa depan. Menurut saya linearitasnya harus ada. Jangan sampai nih, misal teman-teman ingin menjadi Ahli Fisika, tapi di teman-teman menceritakan semasa kuliah aktif di paduan suara, tentu saja itu tidak nyambung. So, kuncinya di sini adalah targetnya jelas dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Achievable, Reliable, Timebound), serta linear alias nyambung. Juga tentu harus terkait dengan masterplan perencanaan Indonesia ke depan itu seperti apa. Itu lebih baik lagi.

  • Study Plan

Nah, ini temen-temen harus bongkar website tujuan universitas teman-teman. Teman-teman harus tahu benar-benar tetek bengeknya studi di univ nanti. Mulai dari kenapa milih di situ, kemudian mata kuliahnya berapa lama, biayanya, lalu siapa professor yang akan teman-teman ajak riset di sana, termasuk memuat aktivitas di sana nanti selain belajar mau ngapain saja, lalu pasca studi nanti mau jadi apa.

  • Sukses terbesar dalam hidup

 Ini bagian essay menurut saya yang paling abstrak dan susah. Seringkali banyak yang merasa nggak pernah punya success story, nggak punya prestasi yang internasional dst. Saya katakan DON’T WORRY GUYS. Ga usah khawatir. Saya kurang tahu pasti parameter penilaiannya, tapi menurut saya di sini adalah silahkan teman-teman ceritakan pengalaman kontribusi teman-teman walaupun itu hanya dalam skala industry tingkat kampus, tapi kalau impactful, pasti itu menjadi poin yang tinggi. Contoh saya sendiri memang punya pengalmaan beberapa kali konferensi diluar negeri, tapi saya tidak ceritakan sama sekali dalam essay ini. Justru saya menceritakan dulu saat berorganisasi di himpunan jurusan dan di lembaga dakwah.  gimana saya sebagai kadept bisa memimpin departtemen, lalu men-develop staff saya, kemudian melakukan inovasi di lembaga dakwah dengan menggunakan beberapa tools keprofesian saya teknik industry. Tentu saja nggak ada sertifikat bukti, dst nya. Tapi yang terpenting di sini adalah gimana teman-teman menceritakan peran teman-teman sebagai orang yang bisa meng-influence. Ingat, visi dari LPDP adalah melahirkan pemimpin masa depan Indonesia, jadi teman-teman harus tonjolkan aspek kepemimpinan di sini.

 c). Surat Rekomendasi

Nah, ini banyak yang bertanya, mas surat rekom itu harus dari siapa. Bebas kok. Ngga ada ketentuan. Tapi yang pasti kalau bisa tokoh masyarakat itu akan lebih baik lagi. Saya dulu kebetulan dari Rektor ITS dan dari Direktur Rumah Kepemimpinan. Malah saya pernah mendengar ada yang dari Pak RT, Pak RW, bahkan ga masalah. Asalkan bukan dari ayah dan ibu ya, tentu saja yang diluar keluarga teman-teman.

Soal berkas yang lain, seperti ijazah, transcript nilai, surat bebas narkoba, dst – dst nya bisa dilihat di buku panduan ya, saya hanya memaparkan tiga hal di atas yang sering menjadi pertanyaan. Setelah teman-teman lolos berkas, teman-teman akan masuk ke tahap Online Assesement.

  1. Online assesement

Untuk tahapan ini merupakan tahapan yang baru. Hanya tes psikologi saja kemarin. Lebih soal kepribadian. Tips dari saya hanya satu : kerjakan sejujur-jujurnya yang benar-benar menggambarkan dirimu, sambil dibacain doa yang banyak. Soalnya saya juga tidak paham mekanisme di sini seleksinya seprti apa. Hanya mengerjakan tes online saja. Kemudian di saring lagi dan tahap terakhir dari semua adalah LGD, Essay, dan Interview.

  1. LGD, Essay, dan Interview

a). LGD (Leaderless Group Discussion)

Di sini teman-teman akan menjalani diskusi. Namanya saja “Leaderless Group Discussion” atau diskusi tanpa pemimpin, jadi tidak ada yang bertindak sebagai moderator, tapi nanti tetap ada yang menyampaikan kesimpulan.

Tips dari saya di sini:

  • Jangan egois, mendominasi, dan terlihat banyak ingin bicara. Ingat di sini kuncinya adalah kerja sama tim.
  • Teman-teman akan berdiskusi, bukan berdebat. Jadi jangan mendebat jawaban peserta lain.
  • Duduk posisi yang tegak tapi santai, sopan, tangan juga jangan terlalu banyak gerak atau menunjuk pake jari telunjuk, itu sangat-sangat tidak sopan.
  • Bicara seperlunya, dan malah di satu kelompoks emua harus mendapat kesempatan bicara yang sama.
  • Akan lebih bagus kalau teman-teman bisa menyebut nama dari teman anggota kelompok (tenang, di depan tiap peserta ada name table-nya kok). Misal “Ya saya setuju dengan pendapat mbak Juminten tadi, dst. Daripada teman-teman hanya bilang ya saya setuju dengan pendapat mbak nya atau mbak berambut gundul, Lebih sopan dengan nama.

 b). Essay On the spot

Untuk ini, silahkan teman-teman baca dan pahami isu-isu selama setahun terakhir di Indonesia ada apa aja. Nanti teman-teman di minta menulis pendapat atau opini soal isu tersebut. Temanya diberikan acak saat hari H. Kalau dulu saya kebetulan membuat semacam list isu, dan penjelasan singkat tentang isu tersebut. Jadi bikin saja semacam tabel, biar tujuannya memudahkan untuk belajar atau mengingat. Format penulisannya seperti  IELTS Task 2.

c). Interview

Nah ini kalau tips dari saya:

  • Tenang, jangan tegang. Anggap interview itu seperti temanmu aja, ngobrol santai tapi tetap sopan.
  • Jangan sekali-sekali bohong. Pasti bakal ketauan. Interview ada 3 orang, satu orang psikolog, dua orang itu biasanya akademisi (dosen / professor). Jadi jelaskan apa yang dia jawab sejelas-jelasnya.

Tadi di berkas saya bilan sejelas-jelasnya dan serapi mungkin. Nah, karena misal ada berkasmu yang kurang jelas, bisa saja ditanyakan saat interview. Interviewer pasti sudah baca berkasmu. Makanya dari itu buat berkasmu sejelas mungkin, tutup celah interviewer untuk bertanya.

Nah kalau sudah itu, tinggal banyakin doa deh. Kencengin shalat malam, tilawah, puasa dst. Tinggal menunggu hasilnya saja.

*Tips Memilih Kampus*

Untuk terkait tips memilih kampus, saya tidak punya preferensi khusus. Yang jelas, teman-teman harus sesuaikan dengan passion teman-teman. Jangan karena misal, aduh aku suka nonton drakor, aku ke korea aja deh. NOOO!! Niat temen-temen di sini itu untuk belajar. Luruskan niat, apalagi teman-teman menggunakan uang negara. Silahkan pilih kampus yang memang di situ terdapat bidang teman-teman untuk belajar dan dengan kualitas yang bagus tentunya untuk meriset kampus dulu, saya sampai bikin excel agar benar-benar detail. Teman-teman bisa bikin seperti itu buat perbandingan, atau lebih simpel lagi, atau bahkan jauh lebih detail justru makin lebih bagus.

QUESTION AND ANSWER
  • Q: Menurut yang saya ketahui, untuk memperjuangkan beasiswa LPDP harus berani bertaruh dengan mengorbankan beberapa bulan awal kuliah untuk mempersiapkan LPDP dengan belum ada jaminan diterima sebagai penerima beasiswa.. Bagaimana cara terbaik untuk mensikapi hal ini?
  • A: Pemahaman pertama saya, mungkin mksud Abhi adalah di sini kuliah dulu lalu baru apply lpdp begitu ? Prosedur lpdp tidak begitu. Jadi kuliah *tidak boleh dimulai dulu*. Dalam artian di sini LPDP tidak menerima pendanaan bagi mereka yang sudah kuliah misal semester 1, baru daftar LPDP. LPDP sifatnya beasiswa penuh dari awal kuliah smpai akhir kuliah. Pemaham saya kedua, mungkin maksud Abhi berkorban di sini adalah pasca lulus harus berkorban mempersiapkan dengan nggak kerja dulu gitu? Bagi saya tiap orang punya strategi sendiri. Banyak juga kawan-kawan saya yang sambil bekerja, dia juga nyiapin LPDP, belajar IELTS or bahasa inggris tiap malam selepas pulang kerja, dst. Jadi ya kalau ditanya butuh pengorbanan emang butuh. Bagi saya tentu saya mengorbankan karir pasca kampus yang harus fokus dulu, baru kerja, beda dengan teman-teman yang udah kerja dapat duit, sementara orang tua untungnya masih support. Bagi teman-teman saya yang bekerja tentu dia punya waktu yang lebih sedikit dalam belajar sehari-hari karena harus fokus antara kerjaan dan persiapan.

 

  • Q: Mas Faiz sudah 12 kali mencoba beasiswa sebelumnya, kira-kira kesalahannya dimana ya Mas? Apa yang diperbaiki hingga bisa lulus di percobaan ke 13 ini? Terus gimana pendapat Mas tentang orang” yang ambil S2 tapi ga linear sama S1 nya dulu? Banyak yg saya lihat begini soalnya.
  • A:
    1. Kesalahan saya ? banyak saya list saja ya.
    • SISS (Swedish Institute) : Saya lolos udah sampai tahap terakhir. Ternyata dari belasan ribu pendaftar se-dunia, yang diterima hanya sekitar 300an orang. Untuk Indonesia kuotanya hanya 10-an orang pas itu. Saya tidak tahu pasti di sini kegagalan saya kenapa, tapi asumsi saya melihat yang diterima itu sudah pada punya pengalaman kerja. Saya masih 0.
    • Fulbright: Almost same, rata-rata yang lolos ke tahapan selanjutnya yang ada pengalaman kerja dan dia bener-bener outstanding di bidangnya.
    • AAS : mayoritas yang diterima anak-anak untuk Indonesia Timur, tapi banyak juga kawan-kawan saya yang outstanding yang lolos.
    • Saudi Arabia (King Saud & King Abdullah –> dua univ. beasiswa beda) : Major di sana kurang cocok sebenarnya dengan rencana studi saya, cuman saya paksakan coba.
    • New Zealand Scholarship : Bidang saya tidak ada dalam list bidang prioritas dari pemberi beasiswa. Saya memaksakan.
    • Thailand (AIT) : Saya sudah diterima, namun ternyata ini saya pas baca saat daftar dulu kurang teliti. Hanya biaya partial saja yang disediakan.
    • Thailand (Chulalongkorn) : Hasil tes kesehatan saya terlambat keluar, sehingga saya mengirim berkas nya terlambat. Mungkin karena ini tidak diterima
    • Taiwan (NTUST Scholarship, MOE, MOST, ICDF) : 4 macam beasiswa juga gagal. Pure kalau ini saya tidak tahu mengapa.
    • Endeavour Australia : Ini karena dosen saya terlambat mengisi form rekomendasi online dan saya kurang mem-follow up beliau.

Tidak masalah bidang tidak linear menurut saya boleh selama ada alasannya. Contohnya teman saya di Swedia sekarang sesame awardee, dia S-1 nya arsitek, sekarang bekerja di media massa. Dia mengambil S-2 bidang media management. Hal itu tidak masalah selama reason-nya jelas. Banyak juga kan yang pekerjaan sama bidang S-1 nya nggak sesuai.

 

  • Q: Begini saya kan kuliahnya ini dari D4 bukan S1. Nah apakah bisa untuk mendapatkan beasiswa S2 juga karena diindonesia saja. Banyak yang tidak menerima dari D4?
  • A: Untuk hal ini secara beasiswa LPDP berdasarkan buku panduan pendaftaran beasiswa tahun 2017 halaman 5 poin 7, bahwa di situ dituliskan *Telah menyelesaikan studi pada program sarjana/sarjana terapan.*  Sehingga seharusnya tidak ada masalah mbak. Yang menjadi masalah adalah setahu saya kebanyakan kampus untuk pendaftaran master, mensyaratkan S-1. Sehingga kalau secara beasiswanya mungkin bisa, tapi kalau kampusnya nggak bisa, berarti saran saya ambil program lintas jalur lanjut ke S-1 dulu mba. Tapi kalau diluar negeri saya belum pernah sebelumnya membrowsing soal ini. Saran saya tetap e-mail saja ke CP masing-masing PT Luar negeri. Mereka pasti fast response kok biasanya.

 

  • Q: Pertanyaan saya lebih ke manajemen waktu dari Kakak sendiri. Bagaimana membagi waktu untuk bekerja kemudian mempersiapkan berkas untuk mendaftar LPDP apalagi kalau cek tumblrnya sampai tinggal 4 bulan untuk belajar di Pare sebagai persiapan IELTS nya.
  • A: Saya gunakan waktu malam sama waktu istirahat di sela-sela kerja. Kebetulan dulu saya kerja di start up yang waktu kerjanya relatif fleksibel, asal tugasmu hari itu selesai. Saya sudah tentu bikin timeline beasiswa, bahkan sampai jadwal saya print saya tempel di dinding. Saya targetkan semua berkas itu sudah selesai paling lambat seminggu sebelum mendekati deadline. Jadi nggak tergopoh gopoh.

 

  • Q: Saya ingin menanyakan apa-apa saja yang saya harus persiapkan sejak dini kak? lalu apakah dengan aktif mengikuti seminar-seminar atau lomba-lomba semisal tidak menang juga menjadi poin plus pada seminar ini ?
  • A: Bahasa inggris. Persiapakan ini sejak dini, karena menurut saya sih ini yang paling susah. Ga bisa simsalabim langsung bisa kayak bule ngomongnya. Untuk seminar dst, saya sarankan lebih fokus saja ke lomba-lomba, organisasi, dan bahkan akan lebih bagus kalau ke pengabdian sosial. Karena LPDP adalah beasiswa yang ber-visi melahirkan pemimpin masa depan Indonesia. Sehingga otomatis track record kepemimpinan teman-teman di kampus akan benar-benar menjadi pertimbangan.

 

  • Q: Pertanyaan saya khusus LPDP afirmasi: masyarakat miskin berprestasi: (1) Cara menghitung pendapatan keluarga terutama buat keluarga yang tidak berpenghasilan tetap seperti petani? (2) Misal skor IELTS 6.0 apa masih diberikan training bahasa karena kampus tujuan meminta 6.5? (3) Daftar LPDP pilih universitas A, tapi ketika lulus LPDP tidak mendapatkan LoA sehingga pilih universitas B yang telah memberikan LoA, boleh kah?
  • A:  Sesuai di panduan :
  1. Tidak mampu secara ekonomi, dengan kriteria orang tua dan/atau suami/istri memiliki penghasilan kotor keluarga sebesar-besarnya Rp.3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dan apabila dibagi dengan jumlah anggota keluarga sebesar-besarnya Rp.750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan, dibuktikan dengan;
    • Kartu Keluarga yang terbaru;
    • Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan;
    • Slip gaji atau surat keterangan penghasilan orang tua dan suami/istri bagi yang sudah menikah;
    • Rekening listrik 3 (tiga) bulan terakhir, bagi yang menggunakan listrik pra bayar dibuktikan dengan membuat surat pernyataan terkait besaran biaya rata – rata penggunaan listrik 3 (tiga) bulan terakhir yang ditandatangani di atas materai 6000. Ditulis saja rata-rata pendapatan tidak masalah. Setahu saya yang penting surat-surat yang lain bisa dilengkapi seperti keterangan tidak mampu dst nya.
  1. Insya Allah tetap setahu saya. Bahkan ada teman saya yang sudah mendapat skor 6.5, namun dia masih tetap mendapat pelatihan bahasa.
  2. Boleh dilakukan pergantian universitas, selama alasannya jelas dan masuk akal.

 

  • Q: Misalkan Kita Apply Universitas yang tidak terlalu bagus tetapi Ada Jurusan yang bagus Di Universitas itu, Kemudian Ada Teman Kita Yang Memilih Universitas Lebih Bagus Tetapi Di Jurusan Tsb Tidak Terlalu Bagus. Apakah Kita Akan Kalah Dengan Pendaftar Yang Mendaftar Di Universitas Bagus? Atau kah ada pertimbangan khusus dari pihak LPDP-nya?
  • A: Soal kalah nggak-nya, sebenarnya tergantung bagaimana kamu membungkus lagi – lagi berkasmu. Saran saya tetap pilih sesuai jurusan yang bagus. Karena di situ justru argumenmu lebih kuat ketika memilih univ tersebut, disamping juga kesesuaian riset, kualitas profesor di sana, juga plan buat Indonesia ke depan. Untuk jaminan kalah menang, saya kurang tahu juga untuk hal ini, bisa saja dua duanya diterima, karena kan kembali lagi ke performa awardee saat proses seleksi.

 

  • Q: Saya ingin bertanya mengenai beasiswa untuk lulusan S1 yang belum memiliki IELTS apakah ada saran dapat mengambil beasiswa jenis apa?
  • A: Semua beasiswa keluar negeri jelas membutuhkan IELTS atau TOEFL mas. Untuk beasiswa pernah saya ikuti seperti ke Taiwan, Thailand, itu hanya butuh TOEFL saja. Kalau tidak ingin butuh IELTS ya ambil saja beasiswa dalam negeri. Tapi beasiswa dalam negeri pun juga butuh TOEFL. Saat ini universitas se-dunia sudah rata-rata meninggalkan TOEFL PBT karena secara bobot sudah dianggap tidak relevan dengan penggambaran kemapuan bahasa inggris seseorang.

 

  • Q: Untuk surat keterangan sehat untuk LN itu harus surat keterangan bebas TBC ya ka? Itu kemarin saya tanya dirumah sakit, disana juga bingung, mau tes yang rontgen biasa atau sampai detail. Kalau detail harganya mahal. Nah baiknya gimana ya ka?
  • A: Cukup tes rontgen biasa saja. Saya dulu yang biasa kok. Habis tes kesehatan termasuk narkoba, dst nya sekitar 300rb an kalau ga salah.  Kalau di rumah sakit pemerintah daerah, semestinya sudah paham ketika dipakai untuk LPDP. Dulu saya di RS. Dr. Soetomo Surabaya, dan para tenaga kesehatan di sana sudah paham saat saya bilang untuk seleksi beasiswa LPDP.

Jangan terlalu menggalaukan akan masa depan teman-teman, karena yang terpenting adalah action atau tindakan itu sendiri. Jangan sampai waktu teman-teman terbuang hanya untuk memikirkan sesuatu yang tak pasti, lakukan apa yang bisa teman-teman lakukan, karena tidak ada yang tahu kapan teman-teman kembali ke hadapanNya. Selagi mampu berbagi kebermanfaatan, maka berbagilah (Faiz, 2018)

oleh:

Jamaluddin (HLN MITI KM)

#ScholarshipDiscussion #EdisiApril2018 #NewHope#NewContribution#HLN#MITIKM

Salam KPK

Kompeten

Profesional

Konributif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now