Buletin Akselerasi MITI Klaster Mahasiswa Edisi 3, November 2015
21/11/2015
Permohonan Maaf Atas Mundurnya Pengumuman Seleksi Wawancara
24/11/2015

Sumber gambar: http://ak-hdl.buzzfed.com/

Walaupun sering terlontar, namun pertanyaan seperti judul di atas, memang sulit untuk dijawab. Karena, tak jarang kita beralasan kuliah di Luar Negeri (LN) agar memiliki kesempatan untuk pamer jalan-jalan, wisata kuliner, mengasah hobi fotografi, nonton konser, bahkan sampai karena merasa takut untuk bekerja, ups. Tentu sah-sah saja untuk memiliki alasan di atas, namun tidak sekiranya alasan tersebut menjadi niatan utama kita menimba ilmu di negeri seberang.

Alasan-alasan tersebut terlalu murah untuk mengganti pengorbanan dan perjuangan yang kita lakukan demi berkuliah di LN. Untuk yang sedang memperjuangkan dirinya untuk bisa lanjut studi ke LN, pasti paham bahwa dalam prosesnya, kita akan menghadapi banyak tantangan-tantangan. Kesemua tantangan muncul, jelas akan menjadikan diri kita siap untuk memulai kehidupan di suatu tempat, yang mungkin sama sekali berbeda dengan lingkungan tempat tinggal kita sebelumnya. So, yuk sama-sama kita menata ulang niat kita untuk bersekolah di LN. Ini beberapa masukan ide, agar niat kamu studi ke LN lebih kece, check these out!

 

  1. Menempa dan mengasah diri agar terus tumbuh
Sumber gambar: http://media.tab.co.uk/

Sumber gambar: http://media.tab.co.uk/

Untuk bersekolah di LN, kita harus menguasai setidaknya Bahasa Inggris, dengan nilai kecakapan tertentu, misalnya TOEFL ITP di atas 550, IELTS minimal 6, atau dengan nilai GRE/GMAT yang sekian sekian, serta banyak lagi. Dan sudah tentu, untuk mencapai nilai tersebut, yang harus kita lakukan adalah mempersiapkannya dengan belajar, membiasakan untuk berlatih, dan terus menerus mengasah kemampuan. Belum lagi ditambah dengan merencanakan topik penelitian, mencari metode yang tepat, serta menganalisis manfaat dari penelitian. Sudah tentu perlu dirancang dengan waktu yang tidak sebentar.

 

  1. Sikap toleransi akan budaya yang berbeda
Sumber gambar: http://ak-hdl.buzzfed.com/

Sumber gambar: http://ak-hdl.buzzfed.com/

Shock culture, salah satunya adalah proses adaptasi akan lingkungan baru yang memiliki kebiasaan dan kebudayaan berbeda dari lingkungan asal kita. Terlebih lagi saat memutuskan untuk mengenyam pendidikan di LN. Kita akan banyak berinteraksi dengan masyarakat asli negara itu, ditambah lagi interaksi dengan teman-teman yang berasal dari berbagai negara lainnya, dengan kebiasaan dan budaya yang berbeda. Mencoba mempelajari berbagai kebiasaan dan budaya tersebut akan membantu kita berinteraksi dan melewati masa-masa shock culture dengan baik. Tentunya dengan menerima hal-hal yang mengandung kebaikan dari budaya baru, namun tetap sesuai dengan prinsip yang kita pegang.

 

  1. Kesempatan memperoleh ilmu dengan fasilitas yang lebih memadai
Sumber gambar: http://space-live.mit.edu/

Sumber gambar: http://space-live.mit.edu/

Dengan mengenyam pendidikan di LN kita memiliki kesempatan yang besar untuk mengakses ilmu pengetahuan lebih banyak. Sebagai contoh, akses untuk jurnal internasional yang terakreditasi, fasilitas perkuliahan yang memadai, fasilitas laboratorium yang sangat menunjang penelitan, serta etos kerja dan riset yang sangat tinggi.

 

  1. Korespondensi dan koneksi yang luas
Sumber gambar: http://www.saintpaul.edu/

Sumber gambar: http://www.saintpaul.edu/

Setelah melewati masa-masa shock culture dengan baik, kita menjadi mampu untuk berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai macam latar belakang. Sehingga mampu mempelajari dan mengambil hikmah dari setiap orang yang pernah kita temui. Hal ini menjadi salah satu yang tak ternilai harganya.

 

  1. Memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi serta mampu berinovasi saat pulang nanti
Sumber gambar: http://www.photos.uaf.edu/

Sumber gambar: http://www.photos.uaf.edu/

Akan tiba waktunya kita kembali ke tanah air, atau istilahnya adalah Back for Good. Sudah bukan rahasia lagi jika lulusan LN kerap tidak terpakai saat pulang ke Indonesia. Namun, apa lantas hal itu mengendurkan semangat kita untuk menimba ilmu di LN? Hey?! Walau sebenarnya pilihan untuk pulang itu kembali pada pribadi masing-masing, tetap saja kepulangan kita untuk membawa perubahan adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Maka, kita harus terus meningkatkan kemampuan adaptasi dan inovasi, yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan di Indonesia. Lebih baik lagi memang, jika hal itu diupayakan sebelum mengambil keputusan untuk kuliah di LN.

 

Akhir kata, kuliah di dalam atau di LN, bukan menjadi parameter mutlak untuk menentukan mana yang paling sukses. Karena, kuliah di dalam atau pun di LN, mana yang akan memberikan manfaat paling luas, multak merupakan pilihan hidup kita masing-masing! [RAP]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now