7 Kebiasaan Mahasiswa-Pencari-Beasiswa-Studi-ke-Luar-Negeri (MPBSKLN) yang Cukup Menyebalkan
30/06/2015
Buletin Akselerasi MITI Klaster Mahasiswa Edisi 2, Agustus Tahun 2015
31/08/2015
Juli 3

Gambar dari; https://www.google.co.id/maps/place/Rostov-on-Don

Tak terasa hampir satu tahun tinggal di sebuah tapal batas. Rostov-na-donu, yang berarti Rostov di (atas) sungai Don, tidak lain adalah kota dimana aku berada saat ini. Anggapanku tentang Rostov-na-donu sebagai tapal batas, karena kota ini sangat berdekatan dengan negara Ukraina. Donetsk dan Lugansk, kota di Ukraina yang sempat mengalami konflik hingga detik ini dan cukup marak pemberitaannya beberapa waktu lalu di berbagai media, ternyata lokasinya tampak dekat dengan kota Rostov-na-donu.

 

Sedikit cemas ketika diumumkan oleh pihak PKR (Pusat Kebudayaan Rusia) Jakarta, jika akhirnya aku ditempatkan di kota Rostov-na-donu. Bagaimana tidak, jika pada saat persiapan keberangkatan menuju Rusia, secara tiba-tiba muncul kabar kurang menyedapkan di media terkait tragedi penembakan pesawat Malaysia Airlines di (atas) udara Ukraina. “Insya Alloh semuanya pasti akan baik-baik saja”, berkata dalam hati. Dan alhamdulillah hingga detik ini, masih berlangsung aman dan nyaman. Kota Rostov-na-donu yang digadang-gadang sebagai jantungnya Rusia bagian selatan dan termasuk ke dalam sepuluh kota besar di Rusia, sering aku menganggapnya seperti kota Surabaya. Entah alasan tepatnya apa, yang jelas dalam perspektif subjektifku mengatakan demikian.

 

Berkisah saat setibanya di Rostov-na-donu, tak lama kemudian telingaku mendengar kata: “orang selatan”. Siapakah orang selatan itu? Kenapa rekan yang membersamaiku menuju kota Rostov-na-donu dari Moskow agak kurang nyaman saat mendengar sebutan tersebut? Lantas terucap dari bibirnya kalau orang selatan itu katanya “menakutkan”, katanya “cenderung keras dan radikal”, “orang selatan itu ada di Dagestan, Ingushetia dan Chechnya”. Dagestan? Ingushetia? Chechnya? Di manakah itu?

 

Juli 1

Masjid Akhmad Kadyrov, Grozny Chechnya

 

Seperti biasa jika hari Jum’at tiba, sebisa mungkin aku menyempatkan untuk pergi menunaikan ibadah sholat Jum’at ke masjid yang hanya ada satu-satunya di kota Rostov-na-donu dan butuh waktu kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan bus dari kampus tempat aku belajar. Seiring waktu berjalan hingga sampai memasuki bulan Ramadhan, pelan-pelan aku mengerti jika sebagian besar muslim yang ada di kota Rostov-na-Donu adalah mereka yang berasal dari kota Dagestan, Ingushetia dan Chechnya di samping dari negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Uzbekistan, Tajikistan, Azerbaijan dan sebagainya.

 

Kebersamaan yang tampak jelas terlihat pada saat agenda buka bersama selama bulan Ramadhan di masjid, akhirnya memberikan persepsi lain bagiku bahwasannya tidak semua orang selatan atau yang lebih dikenal secara umum dengan sebutan orang Kavkas, identik dengan hal buruk dan negatif. Justru dengan hadir dan berkembangnya mereka di bumi Rusia saat ini, Islam mampu berkembang dengan baik tanpa harus menimbulkan gesekan kembali dengan penduduk Rusia yang notabene-nya adalah pemeluk kristen ortodoks. Sekali lagi, bahwasannya tidak perlu ada kecemasan saat menjadi seorang muslim yang taat di Rusia karena pada faktanya, orang-orang Rusia saat ini jauh lebih toleran dengan hadirnya umat muslim di Rusia. Dagestan, Ingushetia dan Chechnya: Tiga kota yang terletak di Rusia bagian selatan di mana sebelumnya telah mengalami sejarah konflik yang cukup lama, namun saat ini telah menunjukkan perubahan drastis ke arah yang lebih baik dalam segi pembangunan infrakstuktur. Terbukti adanya masjid besar Akhmad Kadyrov yang mampu berdiri dengan kokoh dan megah di kota Grozny, Chechnya dan terciptanya kondisi aman dan nyaman di kota umat muslim Kavkas tersebut. [AS]

 

Juli 2

Mahasiswa Muslim Asal Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now