Pengumuman Lolos Call for Essay MITI KM 2016
15/08/2016
Revitalisasi Spirit Hari Pangan Dunia
17/10/2016

Jika ingin mendapatkan beasiswa LPDP, ada tiga tahapan yang harus kita lalui, yaitu seleksi administrasi, seleksi substansi dan persiapan keberangkatan. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang seleksi administrasi dan seleksi substansi.

Seleksi administrasi
Seperti halnya pemberi beasiswa lain, dalam mendaftar beasiswa LPDP, tahap pertama adalah seleksi administrasi. Di tahap ini, seluruh berkas yang telah kita submit di website pendaftaran LPDP akan diseleksi oleh panitia. Mudahnya, jika ada satu berkas saja yang tidak lengkap, maka bisa dipastikan bahwa aplikasi kita akan langsung gagal, tanpa kompromi sedikitpun. Oleh karena itu, pastikan bahwa pada saat sebelum mensubmit berkas secara online, kita telah melengkapi seluruh berkas yang diminta. Pada intinya, berkas-berkas yang diminta untuk seleksi administrasi pada beasiswa LPDP sama dengan pemberi beasiswa lainnya, yaitu mengisi formulir pendaftaran, berkas kelulusan, sertifikat bahasa asing (terutama bahasa Inggris), esai, dan berkas-berkas tambahan lainnya. Tidak ada yang terlalu istimewa untuk proses seleksi administrasi ini. Poin pentingnya adalah setelah mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan, segeralah upload dan submit berkas-berkas di website. Jangan menunda-nunda hingga hari terakhir pendaftaran. Sebagai informasi, hari terakhir pendaftaran seleksi administrasi selalu dihiasi dengan website pendaftaran menjadi overload karena saking banyaknya orang yang mengakses, sehingga website akan terasa super lambat dan proses uploading selalu gagal. Oleh karena itu, tuntaskan submit berkas-berkas di jauh-jauh hari sebelum hari terakhir untuk menghindari kegagalan mendaftar.

Seleksi Substansial
Setelah pengumuman hasil seleksi administrasi keluar dan nama kita tercantum di dalamnya, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan melalui tahap berikutnya: Seleksi Substansial. Seleksi ini jauh berbeda dengan seleksi administrasi. Ini adalah tahapan penentu. Perlu dicatat, jika kita dinyatakan lolos seleksi administrasi, kita harus segera mengurus pembuatan dokumen Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Polres terdekat dari domisili. SKCK harus dibawa saat seleksi substansial. Kalau misalnya pada saat seleksi administrasi, kita melakukan kecurangan seperti penipuan dokumen atau esai bukan buatan sendiri dan menjiplak, nanti di seleksi substansial, kebohongan-kebohongan tersebut akan terungkap. Seleksi administrasi terdiri dari empat bagian, yaitu verifikasi berkas, on the spot essay (OTSE), LGD (Leaderless Group Discussion), dan wawancara. Tidak ada urutan yang baku untuk empat bagian seleksi tersebut. Ada beberapa orang yang melakukan verifikasi berkas terlebih dahulu; ada yang melakukan wawancara terlebih dahulu; dsb. Akan tetapi, intinya adalah kita harus mengikuti urutan jadwal yang pihak LPDP informasikan kepada kita via email. Di informasi tersebut, akan ada waktu untuk tiap bagian seleksi tersebut, nomor kelompok kita untuk OTSE dan LGD, dan nomor kelompok untuk wawancara (perlu diketahui, OTSE dan LGD dilaksanakan beriringan). Biasanya, nomor kelompok OTSE + LGD dan nomor kelompok wawancara tidaklah pernah sama, sehingga kawan-kawan seperjuangan yang bakalan kita temui pun akan berbeda. Yang jelas, saat menjelang jadwal kita, nanti nama kita akan masuk di waiting list yang dipampang di monitor besar lalu akan ada panitia yang memanggil nama kita setelahnya dan menyuruh kita untuk mengikutinya. Selain itu, jika pada saat kita sedang mengantre untuk verifikasi berkas kemudian kita dipanggil untuk melakukan OTSE + LGD atau wawancara, kita wajib meninggalkan antrean verifikasi berkas kemudian mengikuti arahan panitia. Kita masih bisa mengurus verifikasi berkas setelah urusan OTSE + LGD atau wawancara tadi selesai. Jadi, prioritas verifikasi berkas masih di bawah dari OTSE + LGD dan wawancara.
Sangat disarankan untuk stand by minimal satu jam sebelum jadwal kita karena biasanya kita akan diminta masuk dalam antrean pada saat satu jam sebelum jadwal kita. Sebagai informasi, seleksi substansial tersebut tidak mesti dilakukan dalam satu hari full. Berhubung pihak LPDP mengalokasikan tiga hari untuk seleksi substansial, selain kita bisa mendapatkan jatah seleksi yang full day selesai dalam satu hari, kita bisa juga mendapatkan jatah seleksi selama dua hari. Misal: hari pertama OTSE + LGD; hari kedua wawancara dan verifikasi berkas. Dan bisa saja kita mendapatkan jatah seleksi pada hari kedua dan ketiga. Akan tetapi, yang jelas, kita tidak mungkin mendapatkan jatah seleksi pada dua hari yang memiliki jarak, yaitu hari pertama dan hari ketiga. Ada enak dan ada tidak enaknya jika kita mendapatkan jatah seleksi selama dua hari maupun hanya satu hari. Jika kita dijatah selama dua hari, kita bisa lebih bernapas dalam melakukan seleksi dan lebih siap karena seleksi tidak dilakukan seabrek sehingga kita memiliki waktu yang lebih untuk mempersiapkan diri. Di lain sisi, dengan mendapatkan jatah seleksi yang full day, enaknya adalah kita bisa lebih merasa plong dan tidak ada beban lagi setelah semua bagian seleksi kelar dalam satu hari. Selain itu, biasanya para pendaftar yang lolos untuk maju ke tahapan seleksi substansial akan membuat sebuah grup di media sosial seperti LINE atau Telegram. Di grup tersebut, mereka akan berbagi informasi-informasi penting seputar seleksi substansial. Gabung grup tersebut. Biasanya link untuk gabung tersebut akan dishare di grup Facebook “Beasiswa LPDP 2013”.
Biasanya, walaupun bukan sebagai ukuran baku, pengelompokan pada wawancara memiliki kecenderungan didasarkan pada para peserta yang memiliki latar belakang keilmuan agak mirip-mirip. Atau setidaknya, dalam sebuah kelompok wawancara, pasti akan terdapat para peserta dengan latar belakang keilmuan yang mirip mendominasi kelompok wawancara tersebut. Spekulasi saya, hal ini disebabkan karena pewawancara diarahkan untuk bisa mewawancara peserta yang memiliki latar belakang keilmuan yang setidaknya nyerempet dengan latar belakang keilmuan pewawancara, dalam rangka agar pewawancara lebih paham maksud dan tujuan peserta mengapa ingin mengambil studi lanjut. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencari tahu latar belakang kawan-kawan kelompok wawancara kita jauh hari sebelum jadwal seleksi substansial sehingga kita bisa memprediksi latar belakang calon pewawancara kita nanti agar kita bisa lebih siap untuk diwawancarai. Selain itu, jika jauh-jauh hari kita sempat berkenalan dengan salah satu kawan-kawan kelompok wawancara tersebut, itu malah lebih bagus, karena jika nanti pada saat hari H, kawan kita tersebut mendapatkan giliran wawancara yang lebih awal dari kita, setelah ia selesai wawancara, kita bisa ‘menodong’ dia untuk membeberkan apa saja yang baru saja ia alami saat wawancara. Dan informasi tersebut sangatlah berharga bagi kita untuk menghadapi wawancara. Dan mengetahui siapa-siapa saja kawan kita satu kelompok tidak hanya berguna untuk menghadapi sesi wawancara, tetapi juga berguna untuk menghadapi sesi LGD.
Untuk verifikasi berkas, intinya kita harus membawa semua berkas asli (sama sekali bukan fotokopi maupun hasil print) lalu menunjukkannya kepada panitia. Santai saja, berkas kita tidak akan diambil atau diapa-apakan. Hanya dicek saja validitas dan originalitasnya. Namun, surat pernyataan yang pernah kita tanda tangani (surat pernyataan bermeterai) akan diminta oleh panitia. Kalau berkas-berkas kita lengkap dan sesuai, maka sesi verifikasi berkas akan dengan mudah selesai.
Untuk sesi OTSE + LGD, saat mendekati jadwal kita, nanti nama kita akan muncul di waiting list yang terpampang di monitor di ruang tunggu. Nanti akan ada panitia yang memanggil kita dan beberapa nama lainnya yang sekelompok dengan kita. Mulai tahun 2016, bagi para pendaftar yang mendaftar untuk studi di luar negeri, OTSE-nya wajib menggunakan bahasa Inggris. Bagi pendaftar untuk studi di dalam negeri, cukup kerjakan OTSE dalam bahasa Indonesia. Saat sesi OTSE, kita akan memasuki sebuah ruangan bersama kawan-kawan satu kelompok dan pendaftar dari satu atau dua kelompok lain. Kita bisa pilih sendiri tempat duduk yang kita inginkan, tetapi tempat duduknya harus berjarak satu kursi kosong dengan pendaftar lainnya di kanan dan kiri. Kita diizinkan untuk menggunakan pensil ataupun pulpen. Waktu yang diberikan untuk OTSE adalah setengah jam, tetapi terpotong sekitar 5-10 menit untuk membagi-bagikan soal dan lembar jawaban dan menjelaskan instruksi oleh panitia, sehingga waktu riil yang kita punya adalah 20 menit. Di OTSE, akan ada dua pilihan esai yang bisa kita tulis. Kita pilih salah satu yang kita rasa paling relevan untuk kita angkat menjadi sebuah tulisan. Tips untuk menghadapi OTSE adalah banyak-banyak baca berita dari berbagai sumber dan perluas wawasan. Esai yang diminta biasanya tidak pernah jauh dari kasus-kasus terkini. Saat zaman seleksi saya dulu, topik pilihan yang saya dapat adalah (1) kekerasan anak dalam keluarga dan (2) dampak positif dan negatif globalisasi terhadap budaya lokal. Dari informasi yang saya dapat, beberapa pendaftar yang satu seleksi dengan saya mendapatkan topik mengenai kebakaran hutan, hukum kebiri, undang-undang KPK, dsb. Intinya adalah isu-isu terkini dan beberapa isu yang beberapa waktu ke belakang sempat tren. Cara penulisan esai pada OTSE sama seperti kita menulis untuk writing section pada TOEFL iBT dan IELTS. Intinya adalah minimal di esai kita, kita harus bisa menjabarkan introduction, analisis pro, analisis kontra, dan kesimpulan. Usahakan untuk melakukan estimasi waktu sebaik mungkin karena waktu yang kita miliki pun terbatas.
Jika sebelum seleksi substansial, kita telah berkenalan dengan satu atau beberapa kawan sekelompok, hal ini akan semakin mempermudah kita nanti saat LGD, karena sebelum LGD dilaksanakan, kita bersama kawan-kawan sekelompok harus bisa mengatur strategi yang tepat agar kita bisa lolos sesi ini. Siapa yang menjadi pembuka di awal, siapa yang menjadi notulen, harus kita diskusikan dan tentukan bareng teman sekelompok sebelum sesi LGD dimulai, agar kita tidak membuang waktu lagi dalam menentukan hal tersebut saat LGD sedang berlangsung. Pun agar saat LGD nanti suasana bisa lebih cair dan tidak tegang, usahakan kita telah mengenal cukup baik kawan-kawan sekelompok kita. Seperti halnya OTSE, mulai tahun 2016, bagi pendaftar untuk studi di luar negeri, LGD dilakukan dalam bahasa Inggris. So, persiapkanlah dengan baik kemampuan speaking kita. Saat sesi LGD, kita dan kawan-kawan sekelompok akan diminta masuk ke dalam sebuah ruangan. Di ruangan tersebut, akan ada dua orang panitia. Mereka berdua adalah penilai. Biasanya salah satu atau keduanya adalah psikolog sehingga mereka akan paham terhadap bahasa tubuh kita. Kita akan diminta duduk di salah satu dari sejumlah kursi yang disusun melingkar saling berhadapan. Tempat duduk kita telah ditentukan sehingga kita tidak bisa duduk seenaknya. Nanti panitia akan memberikan kita sebuah kertas yang berisi sebuah artikel dan sebuah kertas kosong. Kertas kosong tersebut bisa kita gunakan untuk coret-coret kita dalam mencatat jalannya LGD dan merancang ide-ide yang akan kita sampaikan. Setelah panitia mengatakan bahwa sesi LGD dimulai, kita awali sesi tersebut dengan membaca, memahami, dan merancang poin-poin penyampaian. Di artikel tersebut, akan ada pertanyaan yang harus diangkat untuk didiskusikan bersama. Seperti biasa, topik artikel tersebut berasal dari isu-isu terkini. Saat zaman seleksi saya dulu, saya mendapatkan artikel—yang merupakan analisis seorang mahasiswa PhD di sebuah universitas di Finlandia—yang mengangkat sebuah fenomena keunikan undang-undang Finlandia dalam mengatasi masalah prostitusi. Dan pertanyaan yang saya dapat adalah kami diminta untuk membahas akar masalah dan solusi riil dalam mengatasi permasalahan prostitusi di Indonesia. Setelah selesai membaca, sesuai kesepakatan sebelum memulai LGD antara saya dan kawan-kawan sekelompok, orang yang ditunjuk untuk mengawali diskusi memulai pembicaraan lalu orang yang satu lagi langsung mengajukan diri untuk menjadi notulen. Diskusi pun kami mulai. Di LGD ini, setiap peserta dalam kelompok harus mengemukakan pendapat. Dan dalam menyampaikan pendapat tersebut, gunakanlah bahasa yang santun. Kita harus tetap percaya diri terhadap argumentasi kita, tetapi jangan sampai mendominasi merasa pendapat kita yang paling benar. Jika kita merasa bahwa pendapat kita lebih baik daripada yang lain, sanggahlah pendapat orang lain tersebut dengan santun. Saran saya, kita cukup berbicara dua atau tiga kali kesempatan saja. Jangan berbicara lebih dari ini. Pengalaman saya waktu itu, di kelompok saya, ada seorang pendaftar yang sangat excited dengan topik prostitusi tersebut berhubung latar belakang pekerjaan dia adalah seorang PNS di Kementerian Kesehatan. Dia sangat tertarik berbicara berkali-kali membahas soal kesehatan akibat dampak negatif prostitusi. Bahkan dia pun sampai mempromosikan social movement di bidang kesehatan reproduksi yang dia ayomi kepada kami semua. Bagus memang. Kita menjadi mendapatkan wawasan baru. Akankah tetapi, bukanlah tempat yang tepat untuk merasa mendominasi dan merasa paling tahu segalanya walaupun memang kita banyak tahu soal topik tersebut. Namanya saja Leaderless Group Discussion, jadi semuanya mempunyai porsi yang seimbang. Please, jika memang merasa ingin menyampaikan informasi kepada yang lain, tahanlah hingga sesi LGD selesai. Jangan sampai tiket kita untuk lolos ke tahapan selanjutnya harus tergadaikan hanya karena kita tidak bisa menahan diri. Sebagai informasi, orang yang mendominasi di kelompok saya tersebut, setelah saya cari tahu, tidak lolos seleksi substansial. Entah memang karena akibat sikap dia saat LGD atau dia gagal di sesi wawancara. Yang jelas, dominasi di LGD itu fatal akibatnya. Saran saya berikutnya adalah ungkapkan ide yang cenderung out of the box, yang tidak terpikirkan oleh peserta yang lain. Kemudian, jika sudah banyak akar masalah dan beberapa solusi yang berkeliaran tak tersusun rapi, cobalah untuk berargumen dengan menyusun itu semua dengan lebih struktural dan minta notulen untuk mencatatnya. Saya juga menyarankan bahwa kalau bisa, jangan sampai kita terpilih sebagai orang yang mengawali pembicaraan ataupun sebagai notulen. Memang bagus jika kita menempati salah satu dari dua posisi ini, tetapi jika kita melakukan kesalahan, bisa fatal akibatnya. Kita bisa dianggap gagal di LGD. Orang yang memulai diskusi harus juga menutup diskusi. Sebelum diskusi ditutup, adalah tugas notulen untuk menyampaikan kesimpulan dari diskusi tersebut. Dan setelah notulen berbicara, hanyalah orang yang tadi di awal diskusi berbicara berhak untuk berbicara untuk menutup diskusi. Setelah diskusi ditutup, tidak boleh ada lagi yang berbicara. Sedihnya, saat pengalaman saya, orang yang bertugas menjadi notulen malah tidak mencatat jalannya diskusi dengan baik. Selain itu, dia malah berkata: “duh pusing. Gimana ini cuma sedikit. Maaf ya”. Lalu setelah itu, malah saya yang diminta untuk meresume hasil diskusi. Untungnya saya bisa menjawabnya dengan baik. Konyolnya lagi, orang yang menutup diskusi di kelompok saya malah berbicara lagi mengangkat sebuah permasalahan, dan setelah dia selesai berbicara, panitia langsung mengatakan “waktu habis”. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai memanajemen waktu agar diskusi kita tepat waktu. Diskusi berjalan sekitar 45 menit. Sebagai informasi, setelah saya cari tahu, dua orang yang bertugas di kelompok saya tersebut tidak lolos seleksi substansial. Entah memang karena saat LGD atau mereka gagal di sesi wawancara. Dari 10 orang yang ada di kelompok LGD saya tersebut, hanya ada tiga orang termasuk saya yang lolos ke tahapan berikutnya.

Untuk sesi wawancara, sama seperti sesi yang lain, kita harus tiba minimal satu jam sebelum jadwal kita. Nanti nama kita akan terpampang di waiting list yang ada di monitor. Kemudian beberapa saat kemudian, kita akan dipanggil oleh panitia untuk bersiap-siap diwawancarai. Di sesi wawancara, kita akan diwawancarai oleh tiga orang. Orang pertama adalah pakar yang ahli, atau setidaknya tahu, dengan bidang keilmuan kita. Dua orang sisanya adalah psikolog. Seperti yang telah saya sampaikan di atas, jika kita sempat mendapatkan kawan satu kelompok wawancara, kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya-tanya soal wawancara yang baru saja kawan kita lakukan jika kawan kita tersebut melakukan wawancara lebih dulu daripada kita. Biasanya dalam satu kelompok wawancara yang sama, pewawancara tidak akan menanyakan pertanyaan yang berbeda jauh antara satu peserta dengan peserta lain. Rileks, jujur, santun, dan percaya diri adalah kuncinya. Di sesi wawancara ini, jangan bayangkan kita akan masuk ke sebuah ruangan cukup kecil dan hanya ada kita dan para pewawancara. Di sesi ini, kita akan memasuki sebuah aula, dan di aula ini ada belasan meja tersebar yang tiap mejanya berada 3 orang dibaliknya. Tenang saja. Kita tidak akan terlalu merasa bising walaupun banyak orang di sini karena nanti saat wawancara sedang berlangsung, kita hanya akan fokus kepada pewawancara, bukan yang lain. Saat sampai giliran kita, jangan lupa untuk menjabat tangan erat para pewawancara. Jabat yang erat mantap. Jangan sampai tangan kita keringat dingin saat berjabat tangan. Bagi yang tidak ingin berjabat tangan dengan lawan jenis, beri tanda yang jelas dari jauh agar kita tidak mempermalukan pewawancara yang sudah menyodorkan tangannya untuk mengajak bersalaman. Saat pengalaman saya, di awal, pewawancara memperkenalkan diri masing-masing, lalu meminta saya untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan rencana studi saya dalam bahasa Inggris. Setelah selesai berbicara di awal, para pewawancara akan bertanya satu per satu terkait perkenalan saya ataupun rencana studi saya. Dan mereka masih menggunakan bahasa Inggris. Setelah merasa puas bahwa kemampuan bahasa Inggris saya sudah memadai, pewawancara utama mengatakan cukup dan melanjutkan wawancara dalam bahasa Indonesia. Namun, ada juga pengalaman dari pendaftar lain yang mendapatkan full English interview karena dia memang berencana mengambil studi English literature dan luar negeri. Ada juga yang full bahasa Indonesia. Dinamis. Berbeda-beda antara tiap pewawancara. Saat pewawancara menanyakan tentang kita, jawablah dengan jujur. Jangan sekali-kali berbohong karena pada saat seseorang berbohong, ia akan menunjukkan bahasa tubuh tertentu, dan bahasa tubuh tersebut dapat dibaca oleh pewawancara. Hal ini bisa berakibat fatal. Saat menjelaskan rencana studi, gunakanlah bahasa yang optimis dan visioner, namun juga harus riil, harus jelas target-targetnya. LPDP tidak mau mendanai orang yang tidak visioner untuk pembangunan Indonesia. Pun LPDP juga was-was mendanai orang yang walaupun terlihat visioner, tapi tidak terukur pencapaiannya. Jika pewawancara sudah puas bertanya soal rencana studi kita, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang unik tentang kita. Saat pengalaman saya, karena saya pernah melakukan student exchange ke Korea Selatan, pewawancara bertanya mengapa saya tidak melanjutkan studi S2 di Korea Selatan lagi saja. Kawan saya, karena dia adalah penghafal al quran, ditanyai oleh pewawancara tentang bagaimana untuk bisa menghafal al quran dan tetap konsisten. Ada juga yanh ditanya tentang latar belakang keluarganya yang berasal dari keluarga sangat tidak mampu. Sekali lagi, sesi wawancara itu sangat dinamis. Intinya rileks, jujur, santun, dan percaya diri. Setelah wawancara selesai, jangan lupa sunggingkan senyum kita kepada para pewawancara lalu jabat kembali tangan mereka satu persatu.

Setelah semua sesi selesai kita lakukan, maka berakhirlah tahap seleksi substansial yang harus kita lalui. Tugas kita berikutnya adalah banyak berdoa dan tunggu pengumumannya di website. Jika kita lolos, banyak-banyaklah bersyukur. Jika kita belum lolos, janganlah berkecil hati. Mungkin persiapan kita masih kurang. Coba evaluasi ikhtiar kita. Dan coba juga minta hasil seleksi kita ke website Kementerian Keuangan. Akses websitenya di e-ppid.kemenkeu.go.id Kita masih memiliki satu kali lagi kesempatan untuk maju ke seleksi substansial. Sebagai informasi, setiap pendaftar memiliki hanya dua kali kesempatan untuk maju ke seleksi substansial. Namun, pendaftar memiliki kesempatan berapa kali pun untukmu mencoba mendaftar ke tahapan seleksi administrasi.
Demikian sedikit pengalaman yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Semoga sukses lolos seleksi beasiswa LPDP. Selamat berjuang.

-Reza Dwi Utomo- HLN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now