CARA MENDAFTAR KAMPUS DI TAIWAN
05/12/2016
Hasil Seleksi Penerimaan Pengurus dan Anggota MITI-KM 2017
07/12/2016

Judulnya sepertinya agak provokatif. Tema-tema ini mungkin sudah sering dibahas oleh penulis dan pelajar yang peraih beasiswa luar negeri. Pada tulisan ini, pembaca akan disajikan dengan pengalaman dan tips untuk bertahan hidup di negeri orang. Penulis sendiri akan lebih fokus pada kasus studi di negara United Kingdom, lebih spesifiknya di kota Nottingham. Here we goes!

Teman-teman yang (akan) berkuliah di luar negeri tentu telah merencanakan “mekanisme pembiayaan” selama perkuliahan berlangsung baik dari self-funding atau scholarship (partial or full funding). Secara garis besar alokasi dana yang dibutuhkan dengan nilai signifikan selama studi di UK adalah: tuition fee dan living cost. Tuition fee akan berbeda-beda setiap kampus dan jurusan, sementara range living cost akan berbeda-beda di setiap negara dan kota. Perlu dicatat bahwa kita akan membahas lebih fokus pada pengelolaan living cost yang sangat bisa diatur sedemikian rupa.

Alokasikan Budget sesuai dengan Posnya

Dari budget living cost yang diberikan (berkisar: £800-£1000), kita akan merasa nyaman bahwa budget akan cukup. Padahal, tidak selamanya. Hanya mengandalkan “perasaan” dalam mengelola dana hidup akan menjadikan kita terperangkap pada bayang-bayang semu kecukupan hidup. Sepengamatan penulis, banyak yang mengeluarkan hampir 50%-60% dana hidup bulanan pada awal diterimanya. Hal ini hanya dibenarkan bila sedari awal pengeluaran di awal bulan betul dikeluarkan pada alokasi yang prioritas.

Apa saja prioritas untuk dialokasikan:

  1. Biaya primer: biaya akomodasi dan kelengkapannya (listrik, air, gas dan internet), biaya makan (i.e. groceries, bumbu-bumbu, dst), biaya studi (ATK, print credit, dst), toiletries dan belanja pakaian secukupnya. Pada pos belanja ini, kita tidak boleh pelit untuk mengeluarkan dompet. Akan sangat mengganggu efektifitas belajar bila kebutuhan primer ini tidak terpenuhi. Terkhusus untuk belanja pakaian, kita perlu untuk menyesuaikan gaya berpakaian dengan kondisi setempat. Oleh karenanya, membeli baju hangat semacam coat pada musim dingin sangat diperlukan.
  2. Biaya sekunder: snack, travelling, hobbies/sports dan furnitures. Kita perlu mengalokasikan dana kita pada pos belanja sekunder secukupnya. Dengan alokasi budget ke hal-hal tersebut, tentu akan mendukung “mood” kita untuk belajar dengan maksimal. Maaf atas kelancangan saya yang tidak bermaksud menyederhanakan biaya sekunder, tapi kajian psikologi di artikel/paper lain tentu akan membantu kita memahami bahwa belanja pada alokasi ini memang masih dalam kaidah normal jika kita pandai untuk mengaturnya.

Kenapa saya tidak memasukkan biaya tersier? Saya akan coba bahas di pembahasan selanjutnya. Inti pada poin pembahasan ini adalah priority management. Dana kita harus dialokasikan sesuai dengan prioritasnya. Olehnya, kita hanya bisa beralih ke belanja keperluan sekunder jika dana telah dimaksimalkan untuk pengeluaran primer. Ingat, jangan memakai perasaan! Sangat disarankan untuk membuat spreadsheet untuk merencanakan pengeluaran bulanan.

Sekaya Apapun, Harus Pandai-Pandai Me-Manage Gaya Hidup

Tentu sebagian banyak yang akan berspekulasi “saya kan makannya biasanya di restoran, jadi gak papa ya kalau semisal makan di restoran?” atau “saya hobi banget dengan travelling, bisa kah saya setiap pekan berkunjung ke kota/negara lain untuk membangkitkan gairah belajar saya?”. Olehnya kita harus membedakan yang mana keperluan yang mana keinginan karena mereka sangat jelas berbeda. Dengan mengeluarkan biaya yang diperlukan, berarti kita berorientasi untuk bertahan hidup. Sementara dengan mengeluarkan biaya yang diinginkan, berarti kita berorientasi untuk memenuhi hajat hidup yang berlebihan. Tentu anda lebih paham!

Dengan memenuhi hajat dan keinginan kita, uang biaya bulanan tidak akan pernah cukup walau seberapapun besarnya. Tapi dengan memenuhi kebutuhan kita, biaya bulanan pasti bisa diatur sedemikian rupa. Olehnya pada poin ini intinya adalah self-management. Maka benar pernyataan Mahatma Gandhi:

“Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia serakah.”

Lagi pula, skill dan pengalaman inilah yang akan kalian dapatkan seketika kuliah dan merantau di negeri orang. Saya yakin, cerita anda ke anak cucu kelak akan menginspirasi mereka.

Buat Mimpi akan Diapakan Tabungan Anda Nantinya

Nah tips ini sangat relevan bagi siapa saja yang melanjutkan studi. Iya, menabung bung! Dengan menabung, mind set anda akan melebar lagi tidak hanya sekedar mengatur prioritas dan diri tapi juga semaksimal mungkin berupaya untuk menekan pengeluaran. Olehnya inti dari poin ini adalah asset management.

Buatlah mimpi, setelah kuliah kita akan menabung untuk keperluan yang dicita-citakan: menikahi gadis yang diidamkan, memberangkatkan orang tua umroh, membeli rumah, membangun start-up bisnis dengan modal sendiri, mendirikan yayasan, dst. Dengan tarikan mimpi-mimpi jangka panjang ini, kita akan rela berkorban untuk menekan pengeluaran sebisa kita.

Penulis sendiripun mempraktekkannya. Sedikit berbagi cerita bahwa sebelum berangkat S2, saya adalah fresh graduate yang belum mempunyai pekerjaan. Akan tetapi, keinginan untuk menikah muda dalam rangka menyempurnakan separuh agama dan menjaga diri sangat kuat. Walau dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP kala itu, “modal” masih belum ada. Saya berancang-ancang dengan menyusun perencanaan keuangan pada saat studi dengan target tabungan yang cukup untuk menikah dan biaya hidup sedikit pasca nikah. Singkat cerita setelah kepulangan studi pada Oktober 2016 lalu, in sya Allah saya akan menikah di penghujung tahun 2016 ini, 25-26 Desember, tanpa membebani orang tua secara finansial, alhamdulillah. Mohon pembaca mendoakan semoga semuanya lancar J

Tentu ini hanya contoh, sangat diharapkan pembaca bisa mengambil manfaat. Banyak sekali contoh lain terkait mimpi-mimpi yang diwujudkan pasca studi dengan modal tabungan biaya hidup. Yakinlah mimpi (yang membutuhkan kucuran dana) anda bisa digapai dengan “berhemat” selama masa studi, in sya Allah.

Tips Plus: Travelling!

Saya sangat senang sekali dengan travelling. Walau fisik tidak mendukung karena jarang olah raga hehe, melihat pemandangan alam baru, sudut kota baru, sekedar berfoto di landmarks, dan mendengarkan cerita lokal adalah mood booster terbesar saya. Kendatipun sehabis travelling tepar dulu, seakan ada energi baru setelah travelling hehe.

Akan tetapi, travelling akan memakan biaya yang lumayan signifikan bila tidak direncanakan dengan baik. Sekedar berbagi tips:

  1. Travelling adalah hal serius, maka rencanakan dengan serius! Alokasikan waktu untuk merencanakan program jalan-jalan anda jauh sebelum hari H. Konsekuensi uang dan waktu adalah logis bila tidak direncanakan dengan serius.
  2. Pilih teman travelling kamu. Bersama teman dengan jumlah kecil (kelompok kecil), rata-rata pengeluaran bersama pada saat travelling akan lumayan kecil. Akomodasi bisa share, paket-paket promo tiket bisa didapatkan, makanan bisa share, dll. Pun bekerja sama mencari tiket murah, destinasi wisata yang eye-catching, meminta teman untuk foto/selfie, dsb dengan teman akan sangat membantu.
  3. Pesan tiket jauh hari. Bila anda berencana untuk berangkat pada musim winter, maka paling tidak usahakan memesan tiket di musim fall.
  4. Cari dan gunakan promo-promo yang tersedia. Banyak sekali promo-promo yang disediakan oleh perusahaan travelling, taxi online dan apps yang lagi naik daun. Manfaatkan!

Tips Plus: Shopping!

Bagi yang gemar shopping, mungkin hal yang akan dibahas di sini akan tidak relevan hehe. Apalagi yang telah menjurus pada tingkat shopaholic (kecanduan belanja). Bagi kalian yang shopaholic, saran saya coba bergaul dengan yang tidak hobi belanja atau yang bahkan sering mengkritik anda ketika berbelanja. Biar lebih menekan kebiasaan anda hehe.

Bagi yang masih taraf berbelanja untuk sekedar memenuhi kebutuhan, layaknya saya hehe, silahkan anda kunjungi carboot (semacam pasar barang bekas yang diisi oleh individu-individu rumah tangga atau pengumpul barang bekas layak guna) atau pasar sejenis. Ada banyak barang keperluan anda yang bisa terbeli di sini dengan harga tereduksi mencapai 90% dibandingkan membeli baru. Akan tetapi, bila berbelanja di pasar ini, anda harus teliti dengan kualitas barang dan harus pandai menawar.

Bila tidak di carboot, coba cari promo-promo. Ada beberapa waktu dimana diskon besar-besaran diberikan oleh toko-toko dan perusahaan seperti black Friday atau summer sale.

Manfaatkan juga free membership di Amazon Prime atau belanja di e-bay. Terkhusus belanja di e-bay, barang-barang yang dijual biasanya di lelang. Jika anda pintar mengatur waktu belanja dan detail dengan spesifikasi produk, e-bay sangat cocok untuk anda untuk berbelanja barang second-hand berkualitas dengan harga banting.

-By A. Manggala Putra, SE, MSc

1 Comment

  1. Shareit says:

    thanks for sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now