Coming Soon…
22/09/2015
Tatap Muka Ketua Umum MITI KM dengan Pengurus Wilayah Semarang
02/10/2015

Bisa kuliah di luar negeri (LN), siapa sih yang nggak mau? Apalagi kalo bisa dapet beasiswa. Kalo dulu pas jaman saya masih jadi mahasiswa (berasa tua deh), mahasiswa yang bisa ‘sowan’ ke LN itu bisa dihitunglah jumlahnya. Tapi sekarang udah ada banyak mahasiswa yang bisa main ke LN; entah itu cuma ikut lomba, konferensi, pertukaran pelajar, hingga studi master, doctoral, maupun postdoctoral. Dengan makin banyaknya lembaga pemberi beasiswa, terutama LPDP, kini studi di LN tidak hanya menjadi angan belaka, asalkan kitanya niat dan berikhtiar sungguh-sungguh.

Nah, kalo udah bisa kuliah di LN, apa aja sih yang biasanya kita—atau temen-temen yang sedang studi di LN—lakukan? Berikut ini, mari kita bahas apa yang bisa dan biasanya pelajar Indonesia lakukan, saat studi di LN. Cekidot.

 

1. Studi di kampus

Kalo yang ini sih udah pasti. Belajar di universitas di LN merupakan tujuan utama para pelajar yang sedang berburu ilmu ini. Studi ini banyak bentuknya. Selain menghadiri kuliah yang diampu oleh dosen atau profesor, para pelajar juga melakukan studinya dalam bentuk diskusi-diskusi ilmiah, analisis paper, dan lainnya Tugas-tugas dari perkuliahan biasanya juga menimbulkan momok tersendiri bagi para pelajar. Secara, tugasnya itu lho bikin kepala mumet.

September 2

Gambar via: http://www.isigood.com/wp-content/uploads/2015/05/kuliah-di-luar-negeri.jpg

2. Nge-lab

Aktivitas laboratorium biasanya cuma dilakoni oleh temen-temen yang kuliah di rumpun eksakta. Kalo temen-temen rumpun sosial, nge-lab-nya di masyarakat langsung. Satu laboratorium, biasanya dikepalai oleh seorang supervisor, bisa seorang profesor atau associate professor, atau gabungan keduanya. Dan lagi, bagi temen-temen yang kuliahnya tipe by research, nge-lab merupakan kegiatan paling utama, bahkan lebih utama dibandingkan hadir kuliah. Nge-lab itu udah kayak kerja, dari pagi sampai malam. Malah ada yang sampai tidur di laboratorium, trus besoknya mulai nge-lab lagi. Bahkan, kadang-kadang akhir pekan pun masih harus nge-lab. Weleh-weleh. Temen-temen eksakta yang kuliah di negara-negara di benua Asia, mungkin sangat hafal dengan kebiasaan ini.

September 3

Gambar via: http://www.biobm.com/images/laboratory_equipment_consutling-bkg.jpg

3. Seminar dan konferensi ilmiah

Nah, ini itu juga masuk salah satu agenda wajib. Selain kita harus mengadakan seminar mengenai penelitian kita, hadir di seminar ilmiah yang sebidang dengan kita, biasanya masuk sebagai mata kuliah lho! Nilai SKS-nya juga lumayan banyak, tergantung dari kampus masing-masing. Biasanya, setelah penelitian kita selesai, kita akan diminta untuk melakukan publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah bisa lewat jurnal, maupun proceeding conference. Kalo kita publikasi di konferensi, kita bisa punya kesempatan untuk hadir pada konferensi tersebut. Yang seru adalah kalo konferensinya diadakan di negara yang berbeda dengan tempat kita studi. Lumayan kan, bisa jalan-jalan hehe.

September 4

Gambar via: https://www.oist.jp/sites/default/files/photos/DSC_0887edited.jpg

4. Kerja paruh waktu

Saat kita sedang studi di LN, kita juga bisa melakukan part-time job, alias kerja paruh waktu. Ada pelajar yang menjadikan kerja paruh waktu sebagai sumber pemasukan utamanya untuk menunjang biaya hidup. Ada juga pelajar yang melakukan kerja paruh waktu, hanya untuk menambah uang saku atau menambah pengalaman hidup. Semua itu tergantung dari jenis beasiswa yang didapat oleh pelajar tersebut. Jika ia mendapat beasiswa penuh (tuition fee dan living cost), ia tidak perlu fokus melakukan kerja paruh waktu. Kerja paruh waktu bisa dilakukan di toko-toko sebagai pelayan atau pencuci piring. Ada juga kerja paruh waktu yang dilakukan di laboratorium sebagai asisten peneliti. Lumayan kan kita dibayar. Masing-masing negara punya jenis kerja paruh waktu yang berbeda.

September 5

Gambar via: http://2.bp.blogspot.com/-AHdGj9jb36c/VMjVoiZ8PaI/AAAAAAAAWlI/iPwzaCh4ssk/s1600/scan0005.jpg

Untuk mahasiswa yang hanya mendapat beasiswa untuk membiayai biaya kuliah saja, maka ia harus mencari pemasukan lagi untuk kebutuhan hidupnya. Perlu diketahui bahwa kerja paruh waktu itu membutuhkan kemampuan bahasa lokal yang memadai (jika bahasa negara tersebut bukan bahasa Inggris). Namun, bisa atau tidaknya seorang pelajar melakukan kerja paruh waktu harus diperhatikan, karena ada beberapa penyedia beasiswa yang membatasi waktu bahkan melarang grantee-nya untuk melakukan kerja paruh waktu. Bahkan, kalo sampai ketahuan, beasiswa kita bisa dicabut. Jadi, kita harus pinter-pinter memahami kebijakan masing-masing pemberi beasiswa.

 

5. Belajar bahasa lokal setempat

Kegiatan yang satu ini cuma dialami oleh temen-temen yang studi di negara, dengan bahasa resmi bukan bahasa Inggris. Bayangin aja, kalo kita nggak mahir berkomunikasi menggunakan bahasa setempat, kita akan sangat kesulitan dalam berkomunikasi sehari-hari dengan penduduk setempat, walaupun (misalnya) program kuliah yang kita ambil adalah program internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Toh, aktivitas kita kan nggak hanya di sekitaran kampus. Kita juga perlu menggunakan fasilitas umum, berbelanja, berinteraksi dengan tetangga sekitar tempat kita tinggal. Dan itu semua memerlukan kemampuan komunikasi dengan menggunakan bahasa setempat.

September 6

Gambar via: http://www.getrealmaine.com/_ccLib/image/pages/DETA-5.jpg

Biasanya, tiap kampus memiliki pusat studi bahasa. Kita bisa belajar bahasa setempat di situ. Ada beberapa program beasiswa yang mewajibkan grantee-nya untuk belajar dahulu di pusat bahasa tersebut, sebelum memulai perkuliahan normal. Tapi ada juga yang tidak. Yang penting adalah, temen-temen bisa memanfaatkan fasilitas pusat studi bahasa tersebut untuk belajar bahasa. Atau jika temen-temen merasa pede, ya silakan belajar sendiri.

 

6. Aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia

Tiap negara yang ada pelajar Indonesianya, pasti memiliki Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Dari negara yang terdekat, Malaysia, di sana ada PPI Malaysia. Di Singapura, ada PPI Singapura. Di Amerika Serikat, ada PPI Amerika Serikat, atau nama lainnya adalah Permias. Di Inggris, ada PPI UK. Di Belanda, ada PPI Belanda. Di Jepang, ada PPI Jepang. Di Korea Selatan, ada PPI Korea Selatan, atau nama lainnya adalah PERPIKA. Di India, ada PPI India, dan banyak PPI negara lainnya. Kemudian dari beragam PPI yang tersebar di penjuru dunia tersebut, membentuk suatu aliansi, yang bernama OISAA (Overseas Indonesian Student Association Alliance), atau mudahnya disebut PPI Dunia. Untuk tahun 2015 ini, setelah melalui Simposium PPI Dunia di Kedutaan Besar Republik Indonesia Singapura, Koordinator PPI Dunia terpilih untuk periode 2015-2016 adalah dari PPI Rusia.

September 7

Gambar via: http://ppidunia.org/wp-content/uploads/2015/05/ppid.jpg

Karena dalam suatu negara tempat pelajar Indonesia berkuliah, wilayah negara tersebut sangat luas dan para pelajar tersebut tersebar di berbagai daerah di negara tersebut, maka PPI masing-masing negara biasanya memiliki wilayah koordinasi yang lebih kecil lagi, untuk mengakomodir wilayah yang lebih kecil. Bahkan ada pula yang daerah koordinasinya lebih kecil lagi, yaitu per kampus. Semua sub-PPI ini memiliki garis koordinasi dengan PPI induknya.

Nah, di PPI ini temen-temen pelajar sering beraktivitas dan berkontribusi. Tiap PPI memiliki program kerja masing-masing. Para pelajar Indonesia bisa ikut memeriahkan program-program kerja tersebut. Dalam PPI, biasanya para pelajar akan merasa seperti di rumah sendiri karena bisa bertemu dengan kawan-kawan se-tanah air hebat inspiratif, yang belajar untuk Indonesia lebih baik. Di PPI ini, kita juga bisa melepaskan kerinduan kita akan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan menyicipi masakan khas Indonesia. Banyak hal-hal unik dan mengasyikan yang bisa temen-temen lakukan dalam PPI.

 

7. Gabung di komunitas

“Bergabung di komunitas” saya pisahkan menjadi bahasan tersendiri karena pada dasarnya, jika kita resmi studi di suatu negara, kita akan terdaftar sebagai anggota PPI. Dan ini terjadi kepada semua pelajar Indonesia dari beragam latar belakang. Berbeda konteksnya jika bergabung di komunitas. Gabung di komunitas cuma dilakukan oleh segelintir orang yang punya latar belakang yang sama. Kita bisa ambil contoh komunitas dengan latar belakang hobi. Ada Pantora (Komunitas Fotografer Indonesia di Korea), ada kaskus (biasanya di negara-negara tertentu, para kaskuser membentuk komunitasnya di dunia nyata). Latar belakang agama (6 agama yang diakui Indonesia): ada komunitas Muslim, komunitas Kristen, komunitas Katolik, komunitas Buddha, komunitas Hindu, dan komunitas Konghucu.

September 8

Gambar via: https://utkoreanews.files.wordpress.com/2013/10/avc.jpg

Temen-temen pelajar Indonesia, selain aktif di PPI juga bisa beraktivitas di komunitas-komunitas tersebut. Kegiatan yang diadakan oleh masing-masing komunitas pastinya sesuai dengan latar belakang komunitas tersebut. Kalo komunitas hobi, ya acara-acaranya berhubungan dengan hobi tersebut. Kalo komunitas berbasis agama, ya acara-acaranya berbau keagamaan.

 

8. Jalan-jalan

Ini dia aktivitas yang—terkadang kalo kita mau jujur—paling dinanti-nanti dibandingkan studi itu sendiri. Hehe. Buat apa sih udah jauh-jauh dari kampung halaman di daerah pelosok, lalu berangkat ke LN untuk studi lanjut, tapi nggak nyobain jalan-jalan di negeri orang? Dan perlu kita ingat dan catat, jalan-jalan itu nggak cuma ngomongin seneng-seneng melulu. Dengan jalan-jalan, selain bisa cuci mata dan me-refresh otak dari kepenatan kuliah di kampus, kita juga bisa menambah wawasan dan mengetahui daerah-daerah di negara tempat kita studi. Kalo kita wisata ke pedesaan, kita jadi bisa tahu suasana desa dan penduduknya di negara tersebut. Kalo kita wisata ke kota lain, kita jadi bisa tahu perbedaan budaya dan laju pembangunan dari kota tersebut. Jadi, jalan-jalan sambil belajar, alias study tour.

September 9

Gambar via: https://riezkaltundere.files.wordpress.com/2013/03/img_74661.jpg

 

9. Wisata kuliner

Aktivitas ini lebih sering dilakukan oleh temen-temen yang hobi ngemil dan masak. Melihat jenis-jenis makanan baru bisa membangkitkan hormon adrenalin mereka, untuk berburu makanan tersebut. Karena pasti, tiap negara memiliki keunikan tersendiri untuk jenis makanannya. Ada negara yang memiliki cita rasa makanan manis, ada pula yang dominan asin atau pedas. Nah, hal ini membuat temen-temen pelajar tertantang untuk menyicipinya atau bahkan memasaknya sendiri. Tapi inget ya bagi kawan-kawan yang muslim, jika kita tinggal di negara yang minoritas muslim, kita harus hati-hati dalam urusan makanan, karena banyak makanan dan minuman yang tidak halal. Bahkan pengalaman saya, saya pernah menemukan roti tawar yang mengandung unsur zat yang tidak halal, yang berasal dari babi.

September 1

Gambar via: http://i2.liverpoolecho.co.uk/incoming/article8525748.ece/ALTERNATES/s615/JS55485272.jpg

 

10. Koleksi foto dari beragam tempat wisata

Ada orang yang bilang “No picture, hoax”. Sepertinya dalam beberapa hal, saya setuju dengan pernyataan tersebut, terutama saat jalan-jalan dan nyobain makanan baru. Jalan-jalan belum lengkap rasanya jika kita tidak mengabadikan momentum langka tersebut. Bukan berniat untuk pamer atau narsis (walaupun kadang-kadang iya juga sih), bagi saya, foto-foto itu bermanfaat sebagai kenangan dan bukti otentik bahwa kita pernah dateng ke suatu tempat. Dan mungkin, 10 atau 20 tahun mendatang, kita bisa menunjukkan dan menceritakan foto-foto tersebut ke anak-cucu kita masing-masing. Kenangan yang indah bukan, saat beberapa tahun kemudian kita melihat foto-foto tersebut dan mengingat bahwa dahulu kita pernah mengunjungi tempat-tempat tersebut?

September 10

Gambar via: http://www.crossfit.com/mt-archive2/CrossFitHandstandsWorldwide3.jpg

 

 

Kalo dirinci lagi lebih detail, sebenernya masih banyak aktivitas yang biasa dilakukan oleh temen-temen pelajar Indonesia di LN. Namun, secara garis besar, 10 hal tersebutlah yang biasa dilakukan. Karena tujuan kita berangkat studi ke LN adalah untuk mengumpulkan ilmu demi membangun Indonesia, mari sama-sama fokuskan niat dan tujuan. Bolehlah sekali-kali merehat pikiran dan badan, tapi kita mesti ingat bahwa studi kita ini membawa misi bangsa dan negara. Semangat studi ke LN, kawan! (RDU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buy now